Tiga Gunung Berapi di Sulut Status Siaga 3
Provinsi Sulut memiliki 3 gunung berapi dengan aktivitas vulkanisme yang sangat intens serta berstatus siaga.
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO – Provinsi Sulut memiliki 3 gunung berapi dengan aktivitas vulkanisme yang sangat intens serta berstatus siaga atau level 3 mulai dari gunung Lokon di Kota Tomohon, gunung Siputan di Kabupaten Mitra, Minsel dan Minahasa serta gunung Karangetang di Kabupaten Sitaro.
Pernyataan tersebut mencuat saat pelaksanaan seminar gabungan Indonesia Jepang yang mengambil tema aktivitas vulkanik dan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana di Provinsi Sulut, yang diselenggarakan oleh Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Provinsi Sulut dan Japan International Corporation agency (JICA) Project Team serta Uniersitas Kyoto, MLIT Prefektur Kagoshima, Pemerintah Kota Kagoshima, Kantr JICA Indonesia, JICA Expert dan JICA project team dibuka secara langsung oleh gubernur Sulut SH Sarundajang di ruang Kirana Sintha Lion Hotel, Jumat (24/5).
“Jadi yang ikut ada seminar tersebut dari 200 orang undangan yang disebar hadir 250 lebih dari Jepang sendiri ada 17 orang dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 20 orang serta dari Forkompinda, PVMBG, Kementrian PU, Pos pengamatan gunung Api Sulut, Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) kabupaten kota di Sulut akademisi, LSM, pemuka masyarakat serta dinas atau badan pemerintah terkait lainnya,” kata Makarawung.
Selain itu lanjutnya ada juga peserta dari Gorontalo, Maluku utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat nampak antusias mengikuti pemaparan materi dari pihak BNPB dan JICA.”Seminar seperti ini di Indonesia sudah sering diselenggarakan namun masih terbatas kepada sasaran yakni pengenanlan karakteristik terhadap gunung berapi khususnya yang berada di Provinsi Sulut. “ tambahnya.
Lanjut Makarawung dengan dilaksanakannya seminar ini tentunya akan membagi pengetahuan, informasi, pengalaman menyangkut penanganan bencana, bagaimana upaya-upaya secara rinci penanggulangan sendiri. “Selain itu jika melihat dari protap penanggulangan bencana meski sudah baik tetapi bagaimana kesiapan masyarakat secara spontan dan gtong royong untuk menangani bencana apa bila gunung meletus karena gunung meletus tidak melihat waktu tempat dan kapan harus meletus dan terakhir,” pungkasnya.
Ir Tri Budiant Msi Direktur Tanggap Darurat BNPB mengatakan tiga gunung besar yang sedang batuk di Sulut yakni Lokon, Karangetang dan soputan sehingga harus dibuat jalan evakuasi dan fasilitas yang ada harus dipraktekan. “Kalau saya mau ibaratkan gunung Lokon seperti gadis cantik yang agak genik yang setiap hari bersolek. Dalam UU nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana ada tiga pilar yang harus dilakukan BNPB dan BPBD yakni koordinasi komando dan pelaksanaan pekerjaan,” kata Tri.
Menurutnya Sulut merupakan proyek pertama tetang penanggulangan bencana karena memiliki tiga gunung berapi dengan karakter yang beda sehingga harus di pahami gunung. “Ketiga gunung tersebut sedang siaga 3, relawan bencana dan BPBD serta pihak terkait lainnya harus siapkan tempat berlatih dan memperispakan diri jangan tunggu meledak dan keluarkan lava. Kerana sebagaimana vis BNPD ketika siaga 3 langkah persiapan segera dipersiapkan, suasana ekstrim BNPB bisa memberikan masukan kepada BNPB,” urainya.
Lanjutnya dalam penanggulangan bencana harus punya sensifitas yang tinggi sambil berupaya mengetuk hati masyarakat saat genung batuk. “Mari berlatih agar jika terjadi sesuatu tidak ada yang saling menyalahkan. Banyak hal yang akan menjadi bagian kemungkinan yang lebih mengakar dalam menyelesaikan persoalan gunung berapi di Indonesia yang kaya dengan gunung api,” kata dia.
Secara vaktual keberadaan gunung api banyak penduduknya. Sehingga sangat diperlukan filosifis jauhkan sumber bencana dari manusia dan jauhkan manusia dari sumber bencana. “Ini langkah awal antisipasi persiapkan diri tunggu dinamika 3 gunung berapi ini sehingga tidak ada kekagetan kita ketika terjadi batuk pada tiga gunuang ini,” tandasnya.