Kamis, 27 November 2014
Tribun Manado
Home » Opini

Sayap Penguin Lebih Efisien Dipakai untuk Berenang

Jumat, 24 Mei 2013 13:36 WITA

Sayap Penguin Lebih Efisien Dipakai untuk Berenang
AFP
Penguin
TRIBUNMANADO.CO.ID - Sayap penguin telah beralih fungsi digunakan alat bantu untuk berenang, ketimbang untuk membawanya mengangkasa. Dan penguin telah kehilangan kemampuan terbangnya beribu-ribu tahun lalu. Mengapa?

Studi terbaru menduga bahwa penguin si burung laut berhenti terbang sebagai akibat proses evolusi, yang membuat penguin harus melakukan adaptasi terhadap lingkungan: menjadi perenang ulung. Menurut studi yang dipublikasikan pada Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 20 Mei ini, penguin perlu berenang di tengah lingkungan yang kompetitif.

Mungkin terbang, untuk beberapa aspek, adalah suatu keuntungan bagi para penguin yang hidup di Kutub Selatan. Misalnya saat melarikan diri dari predator, atau saat pawai koloni penguin emperor yang bisa sampai berhari-hari lamanya.

Namun ditegaskan kembali oleh Katsufumi Sato, ahli bidang ekologi perilaku di Ocean Research Institute - University of Tokyo, hal ini terjadi karena faktor evolusi. Burung penguin berevolusi ke ukuran tubuh yang lebih besar sehingga membutuhkan penopang ketika menyelam di dalam air.

Demi alasan penting ini, sayap mengalami pengurangan secara progresif, yang membuat berenang lebih efisien dan saat dipakai terbang sebaliknya. Ini bisa jadi jawaban mengapa pada saat itulah kemampuan penguin untuk terbang berangsur-angsur lenyap.

Sato yang merupakan National Geographic Society Emerging Explorer ini juga menjelaskan, tubuh yang lebih besar memungkinkan mereka untuk lebih lama menyelam. Ketika kesempatan dalam masa transisi di mana sayap tersebut digunakan baik untuk terbang maupun menyelam, maka yang terjadi malah merugikan bagi penguin karena memboroskan energi serta tidak bisa bertahan lama.

Julia Clarke, peneliti yang menekuni evolusi burung dari University of Texas di Austin, mengungkap, "Ada perbedaan yang ditemukan pada penguin-penguin di asal mula, akan tetapi masih sedikit data relevan yang bisa dipakai mengembangkannya. Penemuan terbaru ini dapat menjadi satu kunci dalam pemaparan tentang transisi dari model 'sayap' ke 'sirip' penguin." (Gloria Samantha/National Geographic Indonesia)
Editor: Dion_Putra
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas