Objek Wisata Kaki Dian Tak Terawat
Berada di objek wisata Kaki Dian Minut yang terletak di ketinggian dan melihat ke bawah, akan tampak “tanah perjanjian”.
Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID – Berada di objek wisata Kaki Dian Minut yang
terletak di ketinggian dan melihat ke bawah, akan tampak “tanah perjanjian”.
Menatap ke kiri, tampak kota Bitung, ke kanan Manado dan ke
tengah Minut sendiri.
Sudah direncanakan pembangunan Jalan Tol, Waduk bahkan jalur
Kereta Api untuk mengintegrasikan tiga kawasan tersebut.
Sayangnya objek wisata Kaki Dian itu sendiri tak seindah “tanah
perjanjian”.
Tribun Manado mendapati tempat itu sudah tak terawat lagi
saat datang ke sana akhir pekan lalu.
Untuk memasuki tempat itu, harus melewati palang yang dijaga
seorang anak kecil. Anak itu menyodorkan kaleng, yang harus diisi dengan uang
seribu rupiah. “Pak isi seribu,” katanya.
Sesudah itu palang dibuka, dan bunyi klik terdengar sewaktu
palang ditutup.
Di dalam objek wisata tersebut, ada sederet bangunan, taman,
lalu tangga ke atas, tempat beradanya monumen kaki dian tersebut.
Pada bangunan pas sebelum tangga, terdapat coretan pada
dindingnya yang sudah pula mengelupas.
Bangunan lainnya sama kondisinya, umumnya kumuh dan kusam.
Bahkan ada bangunan yang dindingnya sudah agak retak.
Bunga pada taman di sekeliling bangunan tersebut, tumbuh tak
beraturan.
Ada tanaman yang saking panjangnya, hingga mencapai lantai.
Di tempat tak jauh dari situ terdapat sabuah, agaknya itu
kantin.
Banyak muda - mudi disekeliling
sabuah itu hingga deretan pepohonan di sampingnya.
Datang berombongan atau berdua saja, umumnya dengan sepeda
motor, mereka bisa menghabiskan waktu berjam - jam disitu.
Gerald warga Maumbi pengunjung setia lokasi tersebut
menyatakan kegiatan mesum di tempat itu sudah jadi rahasia umum. “Semua sudah
tahu itu,” katanya.
Tiadanya pengawas membuat peluang untuk berbuat mesum kian
besar, apalagi tempat itu sepi dan sejuk karena berada di ketinggian. “Harus
ada pengawas yang mengawasi,” ujarnya.
Rofni warga lainnya menyoroti perawatan tempat wisata tersebut.
Sebagai ikon wisata Minut, harusnya tempat itu dirawat dan
itu harus bersifat menyeluruh. ‘Mulai dari taman, bangunan dan lainnya,” tuturnya.
Selain perawatan, hal yang harus diperhatikan adalah
penyediaan sarana penunjang seperti jalan, pengawas serta usaha wisata.
“Contoh wisata kuliner atau souvenir yang bisa memberdayakan
masyarakat setempat,” katanya.
Lebih jauh, ia mengusulkan, jika objek wisata tersebut jadi
penunjuk arah bagi objek wisata lainnya di Minut. “Orang yang naik ke situ bisa
ditunjukkan mana itu waruga atau pantai kema,” ujarnya.
Visi Wisata Terancam
Gagal
Sebelumnya Pansus LKPJ dalam satu butir rekomendasinya
menyatakan visi Minut sebagai daerah tujuan wisata tahun 2015 terancam gagal.
Sesuai temuan pansus, anggaran lebih banyak digunakan untuk
hal seremonial ketimbang mengembangkan objek wisata.
“Anggaran lebih banyak digunakan untuk hal seremonial,” ujar
Ketua Pansus Fransiska Tuwaidan.
Pansus pun meminta Pemkab Minut melakukan sejumlah perbaikan
serta membuat terobosan di bidang pariwisata.
Gandeng Investor
Asisten 1 Pemkab Minut Ir Ronni Siwi menyatakan Pemkab Minut
berencana menggandeng investor asing maupun lokal untuk mengembangkan sejumlah
objek wisata di Minut.
Salah satunya adalah objek wisata kaki dian yang berada di
kaki gunung klabat. “Kami akan gandeng investor asing dan lokal,” katanya.
Pemkab melalui Dinas Pariwisata, ujar dia, sedang menyiapkan
masterplan dan nantinya akan dipresentasikan secara internal di Pemkab Minut. “Kami
akan melihat mana yang bisa dikembangkan dari sana,” bebernya.
Siwi melanjutkan setelah presentasi internal, objek wisata
tersebut akan langsung ditawarkan ke investor.
Ia mengakui jika pelibatan investor diperlukan, karena
besarnya anggaran wisata membuat pembiayaannya tak mungkin ditanggung sendiri
oleh daerah. “Anggaran untuk pariwisata sangat besar hingga perlu dilibatkan
investor,” tuturnya. (art)