Minggu, 19 April 2015

'Telur Busuk' Bikin Wisnu Harumkan Nama Indonesia

Kamis, 16 Mei 2013 18:19

'Telur Busuk' Bikin Wisnu Harumkan Nama Indonesia
KOMPAS.com/Ika Fitriana
Antonius Wisnu, menunjukkan karya pendeteksi telur busuk miliknya, yang berhasil megharumkan Indonesia dimata dunia.

Wisnu menjadi The Best Invention (penemu terbaik) di ajang International Exhibition for Young Inventor di Kuala Lumpur, Malaysia, 9-11 Mei 2013 lalu. Siswa kelas XII SMA Taruna Nusantara Magelang itu juga sekaligus meraih medali emas dalam kejuaraan yang sama untuk kategori Food and Agriculture Invention.

Ya, sejatinya Wisnu "hanya" membuat sebuah alat pendeteksi telur busuk untuk kebutuhan rumah tangga. Media utama yang digunakan pun sederhana, hanya lampu senter dan sensor. Namun, alat ini memudahkan orang, khususnya ibu rumah tangga, untuk membedakan mana telur segar dan yang busuk.

"Idenya dari ibu saya yang hobi bikin kue. Suatu hari, ibu sedang mencampur telur di adonan kue. Tapi, ternyata ada beberapa telur busuk yang tercampur di adonan kue. Ini membuat ibu kesal," cerita pemuda asal Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, ini.

Saat itu, Wisnu yang baru duduk di kelas IX SMP langsung berpikir untuk membuat alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi telur busuk. Teknologi yang dipikirkan adalah mudah, murah, dan tepat guna.

Biasanya, kata Wisnu, ada cara lain untuk mendeteksi telur busuk dengan merendamnya di air, memakai gas H2S, atau dengan diterawang. "Tapi, saya memilih ide dengan diterawang dengan konsep cahaya. Saya kira senter merupakan alat penghasil cahaya yang praktis dan mudah didapat. Saya kemudian berpikir untuk menyusun rangkaian sensornya dan membuat mekaniknya," terangnya.

Wisnu memanfaatkan lampu light-emitting diode (LED) berwarna hijau dan merah serta sirine (buzzer) untuk menunjukkan kondisi telur. Jika telur yang dites dalam kondisi segar, indikator yang menyala adalah lampu LED hijau, sedangkan jika lampu LED merah yang menyala, mengindikasikan telur tersebut sudah busuk.

Sinyal ini diperkuat dengan adanya suara buffer sehingga pemakai akan mudah mengetahui telur busuk. "Semua bahan yang saya pakai dari bahan yang ada di rumah, seperti lampu senter, chasing plastik, dan lengan besi. Prosesnya tidak lama sekitar sebulan. Kalau ditotal, saya hanya habis Rp 55.000 untuk membuat alat ini," paparnya sambil tersenyum.

Halaman12
Editor: Robertus_Rimawan
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas