Kamis, 11 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cerita Basuki Ketika Bertemu Jakob Oetama

Basuki yang kini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta menceritakan bahwa dia dipilih oleh Prabowo karena kepercayaan.

Tayang:
Editor:
zoom-inlihat foto Cerita Basuki Ketika Bertemu Jakob Oetama
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (kanan), berkunjung ke Redaksi Harian Kompas untuk bersilaturahim sekaligus menyosialisasikan program kerja Kantor Harian Kompas di Palmerah, Jakarta, Jumat (10/5/2013). Basuki diterima langsung oleh (dari kiri) Pemimpin Umum Harian kompas, Jakob Oetama, yang didampingi CEO Kompas Gramedia, Agung Adiprasetyo, Pemimpin Redaksi Kompas, Rikard Bagun, dan jajaran pimpinan Kompas lainnya.
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Basuki Tjahaja Purnama menepis anggapan bahwa dirinya dipilih Prabowo menjadi pendamping Joko Widodo untuk menghapus "dosa" mantan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat itu pada etnis China terkait kerusuhan 1998.

Basuki yang kini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta menceritakan bahwa dia dipilih oleh Prabowo karena kepercayaan. Menurutnya, itu pesan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra kepadanya.

"Tapi, orang di luar sana bilang Pak Prabowo memanfaatkan saya karena cuci dosa. Emang saya Rinso, he-he-he...," kata Basuki saat bertemu dengan Jakob Oetama di kantor Kompas, Jumat (10/5/2013).

Basuki pun menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar. Sebab, ketika namanya disebut Prabowo, Hasyim Djojohadikusumo (adik Prabowo) langsung menolaknya.

"Kalau itu skenario untuk memanfaatkan saya, Pak Hasyim nolak enggak? Pak Hasyim langsung tinggalin rapat, marah-marah," tutur pria yang akrab disapa Ahok itu.   

Menurut Basuki, Hasyim tidak suka padanya karena terkait kasus KTP di Tanah Merah yang menyebabkan anak-anak kehilangan haknya untuk sekolah. Saat itu, kata Basuki, dia langsung datang ke sana bagi-bagi kartu nama agar anak-anak di sana bisa sekolah.

Rupanya, di Tanah Merah ada yayasan yang ingin mengurus hal ini. Mereka marah karena Basuki dianggap ikut campur tangan.

"Dia (orang yayasan) marah-marah ketika saya datang ke sana bagi-bagi kartu nama. Dia bilang, 'Bapak tahu enggak ini yayasan siapa? Yayasan Hasyim Djojohadikusumo, orang kaya'," tutur Basuki.

"Orang kaya bayar pajak enggak, saya tanya. Rupanya disampaikan, makanya Pak Hasyim marah sama saya, he-he-he," ujar Basuki terkekeh.

Selain itu, lanjut dia, Hasyim inginnya Deddy Mizwar yang mendampingi Jokowi. Namun, hasil survei tidak sepakat dengan yang diinginkan Hasyim. Sebab, survei menginginkan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang memiliki rekam jejak bagus.

"Kalau Deddy Mizwar cuma jual suku Betawi, kalah sama Nara. Ini ada analisa akademisnya," ucapnya.

Akhirnya, terpilihlah Basuki sebagai pendamping Jokowi, yang pada 15 Oktober 2012 menjadi pemenang Pilgub DKI Jakarta.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved