Senin, 27 April 2015

Teroris Poso yang Kabur Diduga Keponakan Kepala Lapas

Minggu, 28 April 2013 17:30

"Sumber segalanya itu karena over capacity lapas, itu menyebabkan stand up control aparat terbatas, ditambah lagi integritas petugas rendah," tegas Eva.

Eva sangat menyesalkan kenapa tahanan dengan tingkat kejahatan tinggi --terpidana teroris dan mutilasi tiga siswi di Poso-- itu bisa dengan leluasa keluar masuk tahanan. "Lapas malah tak buat pengawasan yang lebih. Kalapas harus lebih tegas. Kakanwil juga harus lebih mengawasi dan mensupervisi," ujarnya.

Menurut laporan yang masuk kepadanya, di balik kaburnya tahanan itu terdapat hubungan kekeluargaan. "Yang lari ini adalah keponakan Kalapas. Tahanan ini sering kali keluar malam, masuk diantar staf Kalapas," ujar Eva.

Soal integritas, Eva menilai konsep pembinaan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ia menyoroti praktek pungutan dalam lapas yang masih terjadi merata di seluruh lapas.

"Ada yang melapor ke saya, tiap jenguk tiga kali kena kutipan oleh orang yang bukan berseragam aparat," ungkapnya.

Berkaitan dengan kaburnya Basri alias Bagong, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin, juga mengakui ada kelalaian petugas di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Ampana, Tojo Unauna (Touna), Sulawesi Tengah (Sulteng).

"Kami akui, dari informasi awal yang diperoleh, pengawalannya cukup minim. Itu tentu di bawah standar pengamanan yang wajar," kata Amir.

Halaman12
Editor: Dion_Putra
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas