Bendi di Manado Hanya Muncul di Pagi Hari
Langkah kaki kuda mulai terdengar di jalanan beton antara Paniki dan Pasar Perum Rabu (24/4) sekira pukul 07.00 pagi.
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan wartawan Tribun Manado David Manewus
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO-Langkah
kaki kuda mulai terdengar di jalanan beton antara Paniki dan Pasar
Perum Rabu (24/4) sekira pukul 07.00 pagi. Langkah itu terdengar ramai
karena mendendangkan bunyi sekitar belasan Bendi. Sebuah jumlah yang tak
banyak berubah dengan awal lahirnya angkutan ini di Paniki walaupun
bunyinya tak lagi sering. Sekira pukul 10.30 bunyi itu mulai menghilang
bersamaan dengan pulangnya sang kusir ke rumahnya.
Joseph Sigar (46) pun satu diantara beberapa kusir yang masih
bertahan. Ketika ditemui di rumahnya di Paniki Bawah, ia masih membuka
baju melepas lelah di ruang tamu rumah. Dengan menarik napas panjang,
Sigar pun menceritakan pasang surut angkutan tradisional ini.
"Saya bekerja sebagai kusir bendi di tahun 1992. Untuk Paniki memang
masih baru dibandingkan daerah lain di Minahasa. Itu bersamaan dengan
munculnya mikrolet," kata Joseph Sigar (46). Joseph sendiri mulai
"mengemudikan" bendinya sejak tahun umur 26 tahun.
Awalnya Joseph hanya coba-coba. Ia mendengar orang punya penghasilan
lumayan. Ia kemudian membeli empat bendi. Satu untuk dibawanya sendiri
dan tiga untuk dibawa kusir yang lain. Mereka harus menyetor kepadanya
uang Rp 20.000.
"Saat itu mereka harus menyetor Rp 20.000 dengan kerja pagi sampai
sore. Ongkos penumpang saat itu hanya Rp 300. Yang satu saya bawa
sendiri di pagi hari saja dan saya bisa punya uang Rp 20 ribu dari kerja
saya sendiri,"kata Sigar
Sigar memperoleh untung yang sedemikian banyak karena banyaknya
penumpang. Maklum, mikrolet melayani penumpang dengan trayek tertentu.
Sedangkan mereka bisa membawa penumpang ke mana saja ia mau tapi masih
di daerah sekitar Paniki.
"Yang membuat kami mulai kesulitan sama dengan angkutan yang lain
karena mulai beroperasinya ojek. Penumpang lebih banyak memilih ojek
karena lebih cepat,"ujar Sigar
Saat ini, Sigar dan teman-temannya
lebih banyak bekerja pagi. Uang setoran yang diberikan kepadanya masih
Rp 20 ribu tapi ia masih untung karena ongkosnya sudah Rp 3 ribu untuk
daerah pelayanan sekitar 2 km.
"Sekarang saya tinggal punya satu bendi milik saya sendiri. Yang
lain sudah diambil kusir yang dulu saya pekerjakan sudah memiliki bendi
yang mereka biasa pakai. Saya meminta mereka menyetor untuk beberapa
tahun dan setelah itu mereka memilikinya. Saya dapat Rp 60 ribu sampai
Rp 60 ribu per hari dengan kerja santai,"tutur Sigar
Hasil lumayan pun bisa diperoleh Sigar. Selain tanah yang luas, tiga
motor yang yang berjejer di belakang rumah, ia bisa memperoleh
beberapa barang mewah. Bahkan ruang tamunya kelihatan mewah.
"Memang
ini rumah peninggalan orang tua. Saya yang menambahkan perabotnya.
Untuk anak memang belum kelihatan. Anak saya masih kecil jadi belum
kelihatan hasilnya. Saya kan menikah di usia 33 tahun,"kata Sigar
Sigar memang tidak menampik banyak yang mencibir usahanya ini.
Beberapa teman-temannya mengodanya dengan menyebut pekerjaaan ini bukan
pekerjaan yang baik . Tapi kecintaannya memelihara ternak di masa kecil
mengusir rasa malunya itu.
"Saya beternak sapi di waktu kecil. Jadi dari kecil saya sudah biasa
dekat dengan hewan. Kakak memberikan mobil dan saya juga membeli motor
dan saya sudah mencobanya tapi akhirnya saya tidak suka,"ujar Sigar
Sigar juga menyebut bodi Bendi dapat ditemukan dengan mudah Tondano.
Bodi Bendi seharga Rp 4 juta di masa sekarang. Di tahun 90-an, Bodi
Bendi hanya Rp 2, 5 juta.
"Jika ada kerusakan, paling hanya
ban-nya saja. Harganya Rp 500 ribu. Itupun hanya tiga sampai empat
tahun. Bendi sendiri bertahan enam sampai tujuh tahun.
Menanggapi hal itu Donal Wilar, Kasie Dal Ops Dishub Manado ketika
dihubungi mengatakan pada prinsipnya yang mereka lakukan adalah demi
kepentingan masyarakat. Bendi hanya menjadi kendaraan alternatif.
"Itu
sama seperti ST-20. Itu kan kurang cocok dengan mode kendaraan moderen
di jaman sekarang. Akan tetapi itu tetap dipertahankan,"kata Wilar
Wilar kemudian tidak bersedia berkomentar ketika ditanya soal peruntukkan kendaraan untuk kendaraan wisata.
"No Comment,"kata Wilar sambil tertawa. (*)