Harga Kopra Rendah, Arter Terpaksa Berhenti Mengolah
Petani kopra menjerit dengan harga kopra yang terus menurun dan sang petani pun terus merugi meski tanamannya tumbuh subur.
Penulis: Alpen_Martinus | Editor:
Suburnya tanaman kelapa dan meningkatnya produksi di Minahasa Selatan, tidak menjamin petani kelapa, khususnya kopra sejahtera, disebabkan rendahnya harga kopra yang diberikan oleh perusahaan.
KONDISI tersebut membuat sebagian besar petani kelapa dan pengelola kopra meninggalkan pekerjaan sebagai pengolah kopra lantaran terus merugi.
Seperti yang dialami oleh Arter Weol petani kopra asal desa Kilometer Tiga kecamatan Amurang, terpaksa harus meninggalkan pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 20 tahun, lantaran pengeluaran lebih besar dari pendapatan."Saya berhenti sejak bulan Februari lalu, namun masih sesekali saja buat kopra," katanya, Sabtu (20/4/2013).
Biasanya, untuk mengolah kopra, dirinya harus berada di kebun hingga berhari-hari."Kalau begitu kita ambil uang, untuk ditinggalkan sama istri, juga bahan makanan, nanti dibayar jika sudah jual kopra, tapi kalau kondisinya seperti ini, ya kami merugi," tuturnya.
Lantaran membutuhkan uang untuk menghidupi istri dan seorang anaknya yang masih kecil, ia terpaksa harus banting stir mencari penghasilan lain."Ya biasanya hanya menunggu orang panggil kerja, biasanya dipanggil kalau ada proyek, dan dibayar harian, lumayan untuk anak dan istri, daripada mengolah kopra yang harganya seperti saat ini sangat rendah," jelas dia.
Tak jarang istrinya mengeluh lantaran dirinya hanya nganggur, tidak ada panggilan kerja."Banyak kali mengeluh, apalagi kalau saya tidak kerja berhari-hari, karena tidak mungkin mengolah kopra dengan harga seperti saat ini," kata dia.
Diakuinya ada niat untuk kembali mengolah kopra, jika harganya sudah naik."Kalau harga bagus, pasti balik lagi olah kopra," jelasnya.
Ia menambahkan, itulah suka dan duka menjadi petani kopra."Ya sukanya kalau harga bagus, tapi kalau harga turun, itulah duka kami, karena memang menjadi pertani kopra tidaklah mudah, banyak biaya yang harus dikeluarkan, mulai panen sampai proses pengolahan kelapa," katanya.
Diceritakannya, waktu harga bagus, tidak ada kelapa yang sudah dipanen dibiarkan berserakan di bawah pohon kelapa."Tapi sekarang banyak sekali, dan tidak ada yang olah," jelasnya. Ia menambahkan, saat harga bagus, dirinya bisa mendapatkan untung sekitar Rp 1 juta lebih setiap tiga minggu, waktu pengelolaan, untuk kebun kelapa seluas 1 hektare lebih.
Yah dirinya saat ini hanya berharap pemerintah bisa membantu petani kopra seperti dirinya, dengan berusaha meningkatkan harga kopra yang terus menerus anjlok. Hal yang dialami oleh Arter saat ini memang tengah terjadi pada sebagian besar petani kopra di Minsel.