Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pelestarian Lingkungan Hidup

Pohon Samama 'Surga' Alam Gorontalo Utara

Menuju ke tempat ini, memang butuh perjuangan ekstra

Tayang:
Editor:

Oleh : Budi Susilo jurnalis Tribun Gorontalo

GORONTALO Indonesia kita, gemah ripah loh jinawi, subur makmur alamnya, menghijau rindang bagai perhiasan ‘emas’ bagi bumi ini. Walau Gorontalo tanahnya yang subur, kekayaan alamnya yang melimpah, apakah mampu menggiring rakyatnya ke arah kesejahterahan sentosa?, tentu jawabanya adalah di orang-orangnya, pribadi masing-masing yang bertempat tinggal di Gorontalo.

Bagi seluruh rakyat, tentu menginginkan udara, air, beserta isi-isinya bumi Indonesia ini, membawa kemakmuran merata. Nah, Provinsi Gorontalo, di bagian Desa Bubode Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, warganya memanfaatkan alamnya untuk kegiatan perekonomian hutan kayu berbasis industri.

Meski pengembangannya atas nama Perusahaan Terbatas, berbasis kapitalisme, tentu warga setempat juga harus wajib bisa ikut menikmati hasil bumi tersebut. Tenaga-tenaga pekerjanya memang tidak mutlak 100 persen dari warga asli, tetapi perusahaanya mengkombinasikan dari sumber daya manusia dari luar Gorontalo agar ada inovasi, kreatifitas dan kompetitif yang berkualitas.

Desa Bubode disekelilingnya terdapat bukit-bukit rumput ilalang dan beberapa pepohonan. Tapi sekitar akhir tahun 2012, tempat ini, dibagian tertentu ada yang disulap jadi Hutan Tanam Industri, berupa pohon Samama, Sengon, Akasia, yang kesemuanya untuk pasokan kayu. Menuju ke tempat ini, memang butuh perjuangan ekstra, jalan yang tersedia tidak seperti pada umumnya, beraspal mulus dengan dihiasi marka jalan.

Masuk ke desa ini, bila berjalan kaki harus bersabar dan bermodal memendam tenaga besar, jaraknya jauh, butuh waktu satu jam setengah. Tetapi bila menggunakan kendaraan bermotor, hanya dapat ditempuh 30 menit. Jalannya masih bertanah liat bergelombang dan berlubang, bila hujan jalan berkondisi buruk, becek, berlumpur dan bercadas.

Belum lagi ada rintangan jembatan penghubung yang terbuat dari batang-batang pohon kelapa. Walau berasal dari batang kelapa, dijamin kuat untuk dilewati. Buktinya saat dilewati sebuah mobil x-trail bak terbuka bermuatan penumpang lebih dari lima, batang kelapa masih kuat menahan, setia menghubungkan jalan jurang, berjasa memperlancar perjalanan menuju Desa Bubode.

Karena berbukit, jalannya pun tidak rata layaknya di pusat-pusat kota Jakarta. Medan jalan naik turun, bergelombang. Perlu kewaspadaan tingkat tinggi, bila mau selamat dalam perjalanan. Apalagi lajur jalan hanya cukup untuk satu mobil. Bila kondisi berpapasan dari arah berlawanan maka yang terjadi kerepotan tingkat tinggi. Harus bersabar, harus bisa mengalah satu di antaranya.

Kalau pakai motor roda dua tentu akan sulit menjangkau, dan untuk kendaraan roda empat di anjurkan memakai mobil tipe berbadan kokoh, jarak antara badan mobil dan tanah harus tinggi. Model mobil begini kelasnya adalah Jeep, mobil Off Road.

Dalam perjalanan menuju desa ini, tentu tidak membosankan. Sebab suguhan alam asri hamparan hijau rindang menjadi menu utama perjalanan. Juga ada satu dua rumah gubuk kayu yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan gudang petani di pinggir jalan, menambah atmosfir pedesaan semakin eksotis, perjalanan semakin berkesan.

Setiba di lokasi tujuan, di punggung bukit desa bertemulah petani buruh, Harianto (40), sedang menata bibit pohon jabon. Secara bahasa ilmiah jenis pohon ini disebut Samama, kalau jabon itu bahasa lokal dari daerah Maluku.

“Ya saya bekerja disini, tugasnya tanam pohon. Tiap harinya saya diberi upah sama perusahaan PT Gema Nusantara Jaya, dibayar sebesar Rp 40 ribu per hari,” ujar Harianto yang sudah tekuni hal ini selama lima bulan, Jumat (11/1/2013).

 Tiap harinya, Harianto bersahabat dengan bibit-bibit pohon dan tanah. Jika tidak, maka dirinya tidak peroleh upah kerja. Maklumlah, pria berkulit sawo matang ini bukan pemilik lahan, hanya sebagai buruh penggarap. “Paling kalau hujan saja tidak kerja. Hanya absen masuk kerja,” tuturnya.

Ia berbagi cerita soal pekerjaannya di perusahaan agrobisnis itu. Katanya, menanam pohon Samama itu tidak asal-asalan. Harus pakai sistematika, ada aturan prosedural bila ingin menghasilkan panen yang maksimal.

“Tanam pohonnya mengikuti kontur tanah. Tidak ada pemerataan lahan, ikuti lekuk tanah. Supaya tidak terjadi erosi, kan ini lahannya berbukit-bukit bahaya bila kita ratakan,” ungkap Harianto.

Jarak satu pohon dengan pohon yang lain pun ada aturannya. Ada ketentuan jarak yang sudah terukur. Yakni jarak saf samping antara satu pohon dengan pohon yang lain adalah 3 meter, sedangkan berbanjarnya itu 4 meter.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved