A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Komunitas Lesbi Jadi 'Kedok' Prostitusi ABG - Tribun Manado
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 31 Juli 2014
Tribun Manado

Komunitas Lesbi Jadi 'Kedok' Prostitusi ABG

Kamis, 29 November 2012 23:07 WITA
Komunitas Lesbi Jadi 'Kedok' Prostitusi ABG
KOMPAS.com/ RONNY ADOLOF BUOL
Ilustrasi
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Tak mau kalah dengan pasangan kekasih antarjenis, kini eksistensi pasangan sesama jenis atau yang sering disebut dengan pasangan lesbian di Manado semakin berani. Tak jarang mereka terlihat bergandengan mesra di ruang publik, seperti pusat-pusat perbelanjaan. Perilaku mereka mudah dikenali, karena kebanyakan salah satu pasangannya berpostur mirip laki-laki atau tomboy.

Menurut pengakuan dari beberapa perempuan yang menjalani perilaku ini, mereka kini bahkan sudah punya komunitas tersendiri yang punya sejumlah anggota. Ironisnya komunitas tersebut menjadi pintu masuk bagi mereka untuk terjun ke dunia prostitusi. Lebih parah lagi, kebanyakan dari anggota kemunitas tersebut masih berusia sangat muda dan masih berstatus pelajar dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Violette -bukan nama sebenarnya, yang ditemui Kompas.com di rumah kos yang ditempatinya bersama pasangan lesbinya di daerah Sario. Dirinya mengaku masuk dalam komunitas lesbi karena ingin mendapatkan uang lebih. "Saya ditawari oleh teman sekelas saya waktu itu yang telah lebih dulu bergabung. Dia menjanjikan kalau masuk komunitas ini, uang gampang dicari," ujarnya polos.

Wanita berparas cantik ini memang mengakui waktu itu ia tengah kecewa karena ditinggal sang pacar. Violette yang sakit hati karena lelaku, kini justru harus melayani laki-laki dengan bayaran. "Pasangan lesbi saya yang mencari pelanggan," kata siswi kelas II sebuah SMU ternama di Manado ini.

Memang tidak semua anggota dalam komunitas berpraktik sebagai PSK. Namun, hampir semua anggota komunitas menjadi semacam "marketing" bagi teman anggota lainnya seperti Violette. Uang yang didapat pun dibagi di antara mereka. "Biasanya saya memasang tarif Rp 500.000 hingga Rp 750.000. Yang memberi order mendapat bagian Rp 100.000, sisanya buat saya dan pasangan saya," aku Viollete.

Menjadi anggota komunitas memberi rasa aman bagi mereka. Sebab teman-teman lainnya menjadi tahu keberadaan mereka dan mereka tak perlu repot mencari pelanggan. Hal yang sama diakui oleh Jingga -bukan nama sebenarnya, ketika ditemui di sebuah cafe di bilangan Jalan Piere Tendean. Wanita mungil yang masih tercatat sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi keperawatan ini mengakui jika hampir setahun terakhir ia mempraktikkan hal tersebut.

"Saya sebenarnya tidak anti berpacaran dengan pria. Tapi dengan masuk dalam komunitas lesbi saya jadi mudah mendapat pelanggan," aku Jingga sambil mewanti-wanti untuk tidak menuliskan namanya.

Menurut pengakuannya, komunitas lesbi kini semakin banyak di Manado. Banyak teman sekampusnya kini menjadi lesbian. Mereka bahkan tak segan mengakui hal itu kepada orang lain.

Praktik jual diri dibalik komunitas lesbi itu jarang diketahui orang. Pelanggan mereka cenderung tidak suka jika mengetahui bahwa mereka sebenarnya lesbi. Tetapi baik Viollete maupun Jingga menegaskan, sebenarnya mereka bukan lesbi. "Saya punya pasangan lesbi hanya agar bisa masuk dalam komunitas itu dan dipercaya," ujarnya memberi alasan.

Perkembangan Kota Manado yang semakin pesat dalam segala aspek, secara signifikan juga mendorong berbagai perilaku menyimpang di kalangan remaja, Godaan konsumerisme yang semakin intens membuat para remaja ini tidak lagi memikirkan masa depan mereka. "Bagi saya yang penting bisa dapat uang. Sekarang semua serba mahal. Tidak mungkin minta sama orang tua. Mereka cuma bisa menyediakan uang kuliah," ujar Jingga.

Pengawasan orangtua yang terasa longgar juga menjadi salah satu faktor praktek jual diri di kalangan remaja cukup tinggi. Orangtua cenderung melonggarkan pengawasan terhadap putri mereka ketika berada di luar rumah. Terlebih, bagi mereka yang harus menyewa kamar kos karena sekolah atau tempat kuliah jauh dari rumah. "Yang penting jangan sampai hamil dan ketahuan orangtua atau keluarga. Selama kami bisa menjaga rahasia, selama itupula masih aman," ujar Viollete ketika ditanya apakah tidak takut dengan orang tua.
Editor: Robertus_Rimawan
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas