A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Kasus Heroin, Warga Jakarta Ditangkap - Tribun Manado
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 20 Agustus 2014
Tribun Manado

Kasus Heroin, Warga Jakarta Ditangkap

Kamis, 20 September 2012 00:22 WITA
Laporan Wartawan Tribun Manado Arthur Rompis

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO
- Lima hari usai tertangkapnya Thanyaphon Phoonthaweep (35), wanita asal Thailand pembawa heroin, Rabu (12/9) di Bandara International Sam Ratulangi, aparat kepolisian Polda Sulut kembali menangkap seorang pria bernama Agus Dwinanto (40) di salah satu kamar hotel yang ada di Manado, Senin (17/9/2012).

Penangkapan ini dilakukan, usai pria ber KTP Jakarta Utara itu berhasil di pancing masuk kamar Hotel.

Hal itu diungkap Kapolda Sulut Brigjen Pol Dicky Atotoy dalam jumpa pers yang berlangsung di Mapolda Sulut, Rabu (19/9). "Kami berhasil menangkap satu orang lagi," sebut Kapolda yang di dampingi Dir Narkoba Polda Sulut, Kombes Pol, Guruh Achmad Fabianto serta Kabid Humas Polda Sulut, AKBP Denny Adare.

Sebelum itu, aparat sempat galau, karena Agus yang menurut keterangan Thanyaphon akan datang, hingga hari keempat belum muncul. Kejutan muncul pada hari kelima. Seorang pria muncul tiba - tiba dan langsung masuk ke kamar yang dimaksud.

Aparat pun bersemangat seketika, melihat buruannya itu. Agus pun dibekuk ketika sedang mencari koper yang sebelumnya di bawa Thanyaphon. "Ia langsung di bekuk saat itu juga," katanya.

Dari penyelidikan sementara, di duga keduanya adalah bagian dari jaringan internasional dengan sistem sel putus. Diduga, Agus bertugas mengambil barang dari wanita itu sebelum dibawa ke Jakarta. "Mereka diduga anggota sindikat internasional," tuturnya.

Meski sama - sama bermain, namun keduanya tidak saling kenal. Keduanya beraksi lewat petunjuk dari hp dari seseorang yang tidak dikenal. "Mereka semua tidak saling kenal" sebutnya.

Agus sendiri mengaku dapat petunjuk lewat seseorang bernama pak haji. Jika menelpon, nomor pak haji selalu berganti - ganti, hingga sulit dilacak. Sedang si wanita, beraksi menuruti suara dari balik hpnya. Yang memberi petunjuk, diduga juga adalah warga Thailand. "Kedua orang itu, baik di jakarta maupun di thailand masih dilacak," urainya.

Beda tempat dan tak saling kenal, baik antar pelaku maupun antar pelaku dan yang memberi petunjuk, namun muara dari barang haram itu adalah Manado. Dari Manado, barang itu akan dibawa Agus kepada seseorang yang berada di Jakarta. "Usai dapat barang, ia diperintah ke Bitung dan menuju Surabaya dengan kapal, sebelum finis di Jakarta," ungkap Kapolda.

Tentang Thanyaphon Phoonthaweep, Atotoy mengatakan, wanita ini mulanya adalah wiraswasta. Karena sesuatu dan lain hal, usahanya gagal. Galau sejenak, ia mendapat harapan untuk bangkit, ketika berhubungan dengan seseorang lewat hp. Di iming - imingi uang banyak , suara itu merayunya untuk jadi penyelundup. "Ia tidak kenal dengan suara itu," tuturnya.

Untuk membuat yakin, uang sejumlah 500 dolar as ditransfer ke rekeningnya. Setelah yakin, ia pun disuruh ke India dengan menggunakan biaya sendiri. Di sana, suara itu menuntunnya menuju ke sebuah hotel. "Di kamar itu, tepatnya dibawah tempat tidur, sudah ada tas berisi narkotika," tuturnya.

Dua minggu lamanya, ia tinggal di India untuk tunggu petunjuk. Suara itu, kemudian memerintahkannya menuju Dili. Di sana, kembali, ia menunggu selama dua minggu, sebelum suara itu memerintahkannya menuju Manado, lewat Singapura. "Di sana, ia sempat transit satu hari, kemudian menuju Manado dengan pesawat Silk Air," tuturnya.

Pesawat itu, tiba Rabu pukul 1 siang. Barang haram itu coba di sembunyikan pada lipatan dalam koper (travel bag) bagian atas dan bawah. Petugas Bea Cukai dan BNN yang curiga langsung memeriksa isi koper dan menemukan barang haram itu dalam dua bungkusan kuning.

Dir Narkoba Polda Sulut, Kombes Pol, Guruh Achmad Fabianto menyatakan, barang itu berjenis heroin dengan berat kotor 2,2 kg. Kata Guruh, barang itu masih akan ditimbang untuk memastikan berat bersihnya. "Hari ini, Kamis (20/9) akan ditimbang di pegadaian bersama dengan pihak bea cukai," sebutnya.

Tentang nilai jualnya, belum dapat dipastikan, hanya saja, untuk heroin nilainya lebih tinggi ketimbang shabu. "Harganya 1/3 dari Shabu," tuturnya. Untuk kedua pelaku, Guruh menambahkan, bisa saja dikenai hukuman mati, karena barang yang dibawa masuk golongan satu dan jumlahnya di atas satu kilogram. "Mereka dijerat pasal berlapis yaitu pasal 114 ayat 2, Pasal 112 ayat 2 dan 132 ayat 2 UU No 35 Tahun 2009," tuturnya.

Lanjut Guruh, keduanya telah menjalani pemeriksaan awal dan mulai menjalani penahanan kemarin, (19/9). Meski telah menangkap keduanya, aparat tetap akan menelusuri keberadaan jaringan itu di Jakarta. Aparat Polda Sulut akan segera dikirim ke sana. "Masih akan dikembangkan," tuturnya.

Selain heroin seberat 2,2 kilogram, turut diamankan sejumlah barang bukti berupa koper, dua ponsel merk samsung dan blackberry, uang kertas dolar singapura, amerika dan bath thailand, tanda pengenal kedua pelaku, tas hitam kecil, paspor, headset, serta dompet.
Penulis: Arthur_Rompis
Editor: Robertus_Rimawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
83383 articles 8 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas