Trending Topics :
Tribun Manado Laku 1 Eksemplar di Katedral Koln
Tribun Manado - Jumat, 14 September 2012 14:58 WITA
Share |
IMG_5797.JPG
ist

Laporan Wartawan Tribun Manado Anthonius Iwan Adhipraja dari Jerman
 
Pertama kali menginjakkan kaki di Katedral Koln di Jerman, dada langsung terasa sesak. Kemegahan katedral ini membuat rasa tremendous dan fascinocum (bergetar dan terkagum) menyeruak.  
 
Atap katedral menjulang tinggi hingga 157 meter, ditambah dengan liak-liuk arsitektur gothic membuat katedral ini benar-benar menjadi magnet puluhan ribu orang dari seantero jagad.
 
Katedral yang juga sekaligus makam 3 orang majus ini rata-rata dikunjungi 20 ribu orang setiap harinya. Inilah landmark Jerman yang paling banyak menyedot wisatawan. Jika berkesempatan pergi ke Jerman, akan sangat rugi rasanya melewatkan katedral yang pembangunannya memakan waktu 600 tahun ini.
 
Dibangun mulai tahun 1248, Katedral Koln mampu bertahan dan berdiri tegak hingga sekarang. Pada masa perang dunia dua, katedral ini dihujani 70 bom. Sementara bangunan di sekitarnya rata dengan tanah, dua menara kembar katedral masih berdiri tegak.
 
Sebagian berpendapat, dua menara kembar digunakan sebagai navigasi bagi pesawat-pesawat tempur musuh sehingga sengaja tidak dihancurkan.
 
Kegiatan kunjungan ke Katedral Koln ini bagian dari seminar internasional Civil and Human Right yang diadakan oleh Friedrich Naumann Stiftung di Gummersbach Jerman, 9-21 September 2012.
 
Selain mengunjungi katedral, para peserta seminar juga dimanjakan dengan pusat-pusat perbelanjaan di sekitar katedral. Soal infrastruktur dan tata kota, kemampuan Pemerintah Jerman memang tak perlu diragukan lagi. Bisa dibayangkan, katedral ini berada di satu kompleks yang luas, berpadu dengan pusat perbelanjaan dan stasiun kereta dan Anda akan sangat sulit menemukan satu sampah plastik berserakan, bahkan puntung rokok sekalipun.
 
Keramaian pengunjung di depan katedral membuat saya tergoda untuk iseng menjajakan koran Tribun Manado. Tentu saja sesuatu yang sebenarnya tak masuk akal, tapi bagaimanapun itu, keinginan sudah terlalu kuat.
 
Pada kesempatan pertama saya mengangkat koran Tribun Manado tinggi-tinggi, tak ada yang mempedulikan. Hal yang sama terjadi ketika saya sedikit berpindah tempat. Tak berapa lama, datang seorang pemuda dengan rambut pirang menghampiri saya. “Apa ini,” tanyanya dalam bahasa Inggris. Saya kemudian menjelaskan bahwa saya adalah seorang jurnalis dan sedang menjajakan koran saya dari Indonesia.
 
Dia tampak tertarik dan tersenyum-senyum ketika melihat-lihat halaman demi halaman koran Tribun Manado. Setelah menunjukkan mimik ekspresi berpikir, dia pun memutuskan untuk membeli. “Can I have one (bolehkah saya minta satu),” tanyanya. “Tentu saja,” jawab saya dalam bahasa Inggris.
Transaksi pun terjadi, saya memberikan satu eksemplar koran Tribun Manado dan dia memberikan saya 2 pesos. “Saya dari Argentina,” ujarnya. Kami berdua pun kemudian tertawa terbahak-bahak.
 
Ya, pria dari Argentina itu bernama Adam Dubove. Bukan orang asing bagi saya karena kami berdua sama-sama peserta seminar. Adam tertarik dengan tingkah saya di depan katedral mengacung-acungkan koran. “Koranmu sangat menarik, aku ingin membawanya pulang ke Argentina,” tuturnya. (anthonius iwan adhipraja)
 

Penulis : Anthonius_Iwan
Editor : Andrew_Pattymahu

Bergabunglah dengan Tribun Manado Sharing Community untuk update berita Sulawesi Utara dan berbagi informasi kegiatan komunitas Anda.

Follow twitter kami di @Tribun_Manado untuk mengakses berita melalui twitter.


Download Tribun Manado Blackberry Launcher untuk memudahkan anda mengakses berita melalui perangkat blackberry.


Facebook Comments
Comments
Advertise


Facebook