Tribun Manado road to Jerman
Frank Senyum-senyum Baca Tribun Manado
Mimik muka Frank tampak sumringah ketika dia membaca Tribun Manado, Minggu (9/8/2012).
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Mimik muka Frank tampak sumringah ketika dia membaca Tribun Manado, Minggu (9/8/2012). Beberapa kali dia membalik halaman demi halaman koran. Sesekali dia mengerutkan dahi, berusaha untuk mengerti kalimat demi kalimat berita di hadapannya. Dia melewatkan beritanya dan memilih untuk memperhatikan foto-foto. Frank tak bisa berbahasa Indonesia, bahasa Inggrisnya pun patah-patah. Tak ingin membuat orang bertanya-tanya tentang kemampuan bahasa Inggrisnya, Frank sengaja melakukan hal menarik. Ketika bertemu Frank pertama kythali di Bandara Internasional Koln, Jerman, di mengenakan kaus polos hitam bertulisan, “My english is like yelow part in the egg”. (bahasa Inggris saya seperti bagian kuning dalam sebuah telur).
Kembali ke soal bagaimana Frank akhirnya bisa memegang koran Harian Tribun Manado di sebuah kota kecil di Jerman bernama Gummersbach. Frank bekerja sebagai pengemudi. Dia bertugas menjemput tiap peserta seminar Internationale Akademie fur Fuhrungskrafte (IAF) yang diadakan oleh Friedrich Naumann Stiftung (FNS), sebuah lembaga pendidikan politik di Jerman. Saya termasuk satu di antara 23 peserta dalam seminar 12 hari dengan tema “Human and Civil Right” ini.
Setelah perkenalan singkat dengan Frank di Bandara International Koln, kami bertiga dari Indonesia langsung tancap gas ke Theodor-Heuss-Akademie di Gummersbach.
Perjalanan sekitar 50 kilometer ke arah timur dari bandara ke akademi kami tempuh kurang dari 40 menit. Frank ngebut. Pun demikian, mobil volkswagen yang kami tumpangi tetap terasa stabil dan nyaman, apalagi jalanan di Kota Koln hingga Gummersbach seperti jalan tol, lebar dan mulus. Jalanan juga sepi, tak banyak orang berpergian. Di sini, layaknya di Manado, sebagian besar toko tutup pada hari Minggu. Dalam perjalanan kami juga melewati sebuah gereja dengan puluhan mobil parkir di sampingnya.
Kami berpesan kepada Frank supaya singgah di sebuah minimarket. Dia pun membawa kami di sebuah SPBU, tak jauh dari akademi. Perbedaan paling kentara dari minimarket di sini dibandingkan dengan minimarket di Indonesia adalah, di sini mereka menyediakan ruang yang relatif besar untuk display majalah dan koran. Di satu sudut, hampir setengah ruangan dari atas sampai bahwa digunakan untuk memajang majalah dan koran.
Nah, ketika berada di supermarket itulah saya meminta Frank untuk “membaca” Tribun Manado. Sementara, beberapa koran saya tempatkan di display, sejajar dengan koran-koran Jerman lainnya macam Bild ataupun Der Tasgesspigel, dan “pret”, bunyi kamera saya mengabadikan senyum Frank ketika membaca Tribun Manado.
Cuaca sangat bersahabat ketika kami pertama menginjakkan kaki di Theodor-Heuss-Akademie. Tidak seperti perkiraan cuaca yang saya lihat sebelumnya di sebuah website. Bicara soal cuaca dan perbedaan waktu, satu-satunya hal yang masih terasa aneh bagi saya adalah ketika menginjak sore hari. Tubuh saya belum bisa memahami kenapa langit masih terang benderang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. Saya sudah pernah mendengar cerita soal ini sebelumnya, tetapi mengalami sendiri situasi ini tetap menjadi sesuatu yang aneh bagi tubuh.
Berjumpa dengan puluhan orang dari berbagai belahan dunia di tempat ini membuat saya harus selalu fokus. Rasanya dibutuhkan “energi” extra untuk merubah beberapa setingan di telinga saya dengan cepat. Yang saya maksud adalah, tiap peserta punya aksen berbeda ketika berbicara Inggris. Lucia dari Zimbawe misalnya, bicaranya sangat cepat, sementara Zahra dari Afrika Selatan suaranya melengking tinggi.
Mereka yang selalu tersenyum dan ramah adalah kelompok dari Filipina berjumlah lima orang. Perawakan mereka yang sama dengan kami dari Indonesia membuat kami cepat akrab dan merasa dekat, apalagi ketika mereka mengetahui dua peserta dari Indonesia, saya dan Juan Mahaganti berasal dari Manado. (anthonius iwan adhipraja)