Kamis, 11 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rohani Katolik

Pertemuan Berkala Mudika ke-XIX, Watutumou Sapu Bersih Lomba Bergengsi

Stella Pantouw mengaku memiki kesan yang mendalam dengan Pertemuan Berkala Mudika Kevikepan Tonsea 2012 ke- XIX.

Tayang:
Penulis: | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Stella Pantouw mengaku memiki kesan yang mendalam dengan Pertemuan Berkala Mudika Kevikepan Tonsea 2012 ke- XIX di Paroki Santa Ursula Watutumou. Pengakuan itu diberikannya saat memberikan kesan dan pesan mengenai kegiatan itu pada acara penutupan Senin (20/8/2012).

Menurut gadis cantik asal Paroki Stella Maris Bitung ini banyak cerita yang bisa ia bawa dari pertemuan Muda-mudi Katolik (Mudika) yang diikuti tujuh paroki ini. Sejak awal kedatangan kontingennya, mereka sudah disambut dengan baik oleh mudika tuan rumah. Mereka juga telah diberi tempat penginapan yang baik. "Walaupun memang yang merupakan ciri khas pertemuan berkala mudika itu ialah tidur dalam satu tempat. Kami yang ada di rumah penginapan khusus putri harus tidur bersama. Mandi pun harus antre,"ujar Stella.

Perasaan yang dialami juga campur aduk. Setiap kegiatan memberi rasa yang berbeda kepadanya. Jadwal memang cukup teratur tapi mengatur strategi bagaimana bisa mememangkan beberapa pertandingan baginya bukan perkara yang mudah. "Kadang ada kesedihan. Kadang ada kemarahan. Kadang ada kegembiaran. Semuanya berganti-ganti. Tergantung lomba apa yang diikuti. Akan tetapi rasa persaudaraan sebagai muda-mudi Katolik sungguh tercipta di sini,"tutur Stella.

Yang menjadi beban pikiran Stella tentu saja lomba Paduan Suara. Lomba itu merupakan lomba yang dianggap paling bergengsi di antara lomba-lomba yang ada. Apalagi, Bitung merupakan juara bertahan paduan suara. Mereka mendapatkannya di Pertemuan Berkala Kevikepan Tonsea ke-XVIII di Paroki Santo Paulus Lembean tahun 2010. "Saya tidak bisa tidur selama tiga hari. Kami hanya memikirkan  hasil yang akan didapat dalam lomba koor itu. Tapi kami akhirnya juga kalah,"tutur Stella.

Walaupun kalah, Stella tetap merelakan juara paduan suara berpindah ke Paroki Santa Ursula Watutumou yang dengan luar biasa menyapu bersih semua piala untuk lomba bergengsi  yaitu Tari Jajar, Vocal Grup dan Paduan Suara. Mereka tampil memukau untuk menggunguli paroki- paroki lain.

Stella juga mengakui pertemuan berkala tahun 2012 ini merupakan pertemuan berkala yang sukses. Semua sangat teratur dan pelayanan yang diberikan juga sangat baik. Ia berharap pengaturan yang baik ini juga diikuti oleh paroki yang akan menjadi tuan rumah pertemuan berkala selanjutnya. "Kami dari Paroki Bitung merasakan penyelenggaran teratur. Saya juga melihat hampir tidak ada keberatan yang berarti yang diberikan peserta,"kata Stella yang diiyakan juga oleh peserta yang lain.

Pertemuan berkala ini sendiri sudah dimulai Jumat (17/8/2012). Malam itu diisi  dengan ibadah dan prosesi seribu lilin. Bendera Merah Putih dan Bendera Kuning Putih yang merupakan bendera Vatikan berdiri sejajar di panggung utama. Keesokan harinya Sabtu (18/8/2012), acara dibuka secara resmi dengan misa yang dipimpin Vikaris Episkopalis Kevikepan Tonsea Pastor Agus Sumarauw, Pr dan semua pastor di Kevikepan Tonsea. Hadir pula Bupati Minahasa Utara, Sompie Singal yang dahulu merupakan mudika Paroki Santo Johanes Penginjil Laikit.

Setelah tiga hari penyelenggaraan, akhirnya Mudika Paroki Santo Paulus Lembean bisa merebut kembali juara umum dari Paroki Santa Ursula Watutumou. Akan tetapi, mereka belum berhasil menyempurnakan juara karena semua lomba bergengsi disapu bersih oleh Paroki Santa Ursula  Watutumou. Watutumou sendiri mendapatkan Juara Dua Umum dalam ajang dua tahunan ini "Ambil saja piala yang lain  tapi tiga piala ini cukup bagi kami,"teriak Andreas Sepang, Ketua Mudika Paroki Santa Ursula Watutumou sambil bercanda.

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved