Bisnis
Octaviani Luntungan Belajar Bisnis dari Mama
Memiliki dua buah butik dan satu nail art di usianya yang baru menginjak 24 tahun tentu bukan semudah membalik telapak tangan.
Penulis: Fransiska_Noel | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Memiliki dua buah butik dan satu nail art di usianya yang baru menginjak 24 tahun tentu bukan semudah membalik telapak tangan. Ada usaha, kerja keras disertai ketekunan dan kreativitas terus-menerus untuk berinovasi.
Itulah yang dilakukan Octaviani Lidiya Luntungan. Pengusaha muda lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Managemen Universitas Sam Ratulangi Manado ini mengaku bersyukur bakat wirausaha yang dimilikinya ternyata dipelajari langsung dari almarhumah mamanya sendiri.
"Waktu mama masih hidup, sejak kami masih kecil-kecil dia senang sekali jualan apa saja. Mulai dari baju, tas, sepatu, dan masih banyak lagi dijualnya kesana-kemari. Dari situ saya belajar bagaimana berjualan," ungkap wanita kelahiran 15 Oktober 1988 silam ini.
Setelah melihat dan belajar bagaimana cara mamanya jualan, Lidya kemudian iseng-iseng mulai ikut jualan aneka katalog pakaian, tas sejak masih duduk di bangku SMA.
"Usaha ini terus saya tekuni sampai selesai kuliah. Bahkan di kelaspun saya jualan aneka produk katalog ke teman-teman sampai ke dosen," tuturnya.
Dilahirkan bukan dari keluarga berada, Lidya diajarkan untuk mampu meraih kepercayaan orang. "Mama selalu ajar usaha apapun yang dikerjakan harus mampu mendapat dan mempertahankan kepercayaan orang lain," tuturnya.
Pola pikir inilah yang diakui Lidya sangat membantunya ketika mulai mendirikan usaha butik pakaian miliknya sendiri sejak tahun 2010 silam, dengan label Ki'ku Accesories, Fashion and Bag's yang berada di MTC Manado dan IT Center Manado.
"Dengan memegang kepercayaan orang lain jugalah yang akhirnya membuat beberapa suplier produk import saya bersedia memberikan produknya dengan membayar belakangan," tuturnya semriangah.
Buah ketekunan, kerja keras, ditambah suport dari keluarga membuat Lidya makin semangat menjalankan bisnisnya sendiri. Bukan hanya butik, tetapi sampai menjual tas, asesoris wanita, hingga bisnis perawatan kuku.
Semua usaha ini dijalankan Lidya dengan dibantu empat karyawannya. "Karena satu harapan saya, usaha yang saya kerjakan bukan hanya menghidupi diri sendiri tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain juga," ujarnya.
Lidya menjamin dengan kreativitas disertai inovasi dirinya mampu menghadirkan usaha dengan pelayanan berbeda. "Toko baju, tas, perawatan kuku banyak, dan untuk bisa bersaing dibutuhkan inovasi dan kreativitas terus menerus," jelasnya.
Salah satu contoh, untuk bisnis baju, asesoris, dan tas Lidya mengaku menerapkan sistem penjualan eceran dan reseler. "Saya bukan hanya ajak orang beli produk eceran di tempat saya tetapi saya juga tawarkan mereka untuk menjadi reseler dengan harga menarik," ungkap bungsu dari tiga bersaudara ini.
Lidya juga mulai memasarkan produknya secara online dengan memanfaatkan jejaring sosial. "Sambutan yang didapat luar biasa juga pada penjualan secara online ini," katanya.
Dalam sebulan Lidya mengaku bisa meraup keuntungan hingga 15 juta rupiah dari usaha yang dijalankannya.
Kedepan, dirinya memiliki impian memperkuat usaha yang dimilikinya saat ini dengan menyusun sistem penjualan yang lebih rapi dan memiliki jangkauan lebih luas. "Semisal usaha MLM Sophie Martin, saya ingin usaha saya punya lebel nama sendiri, katalog sediri dan melibatkan sebanyak mungkin orang untuk ikut dalam usaha ini," harapnya