Kamis, 11 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Masalah Perkotaan

Berkeliaran Bebas, Orang Sakit Jiwa Berlagak Bak Polantas

BUNYI peluit panjang terdengar berulang-ulang di tengah jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Ranotana, akhir pekan lalu.

Tayang:
Penulis: Ryo_Noor | Editor:
zoom-inlihat foto Berkeliaran Bebas, Orang Sakit Jiwa Berlagak Bak Polantas
TRIBUNMANADO/RYO NOOR
Di dekat Patung Sam Ratulangi itu, berdiri seorang pria mondar-mandir mengenakan pakaian compang-camping, ia berlagak bak polisi yang mengatur lalu lintas.
Laporan Wartawan Tribun Manado Ryo Noor

BUNYI peluit panjang terdengar berulang-ulang di tengah jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Ranotana, akhir pekan lalu.

Di dekat Patung Sam Ratulangi itu, berdiri seorang pria mondar-mandir mengenakan pakaian compang-camping, ia  berlagak bak polisi yang mengatur lalu lintas.

Tatapan mata banyak orang tertuju ke pria yang tubuhnya kotor dan kurus kering itu, ada yang menatap iba, namun banyak yang tertawa menyaksikan ulah pria tersebut. Dari lagaknya, pria itu terlihat sakit jiwa.

"Komandan sudah macet disini," teriak seorang siswa SMA disambut tawa oleh teman-temannya.

Tak jauh dari lokasi itu, tepatnya di depan eks lokasi Coco Supermarket, senasib seorang pria yang pakaiannya terlihat awut-awutan. Ia berkeliaran tak tahu arah, menyebrangi jalan tanpa penduli mobil yang berseliwiran.

Dua pemadangan itu sudah lama disaksikan warga Manado, seakan menggambarkan, tak ada lagi tempat bagi penduduk sakit jiwa mendapat perawatan medis. Tak bisa dipungkiri, masih banyak warga kurang waras berkeliaran di jalan.

Sebenarnya Rumah Sakit Ratumbuisyang melayani pasien rawat inap apalagi fasilitas tersebut dibiayai oleh program nasional Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Dr Bahagia Mokoagow, Kepala RS Ratumbuisyang pun membenarkan hal tersebut. Hanya saja tak ada yang menangani langsung masalah warga sakit jiwa yang berkeliaran

"Kalau Dibawa ke tempat perawatan akan mendapatan banttuan penanganan, keluarga hanya perlu menyiapkan syarat untuk Jamkesmas," tuturnya.

Di RS Ratumbuisyang merawat sekitar 200 pasien sakit jiwa.

Sayangnya Mokoagow mengutarakan, angkat tangan bila harus menangani pasien sakit jiwa yang berkeliaran, yang jumlah saja tak diketahui

"Kalau penderita berkeliaran dijalan tugasnya dinas sosial, membawa ke sini dirawat ke sini. RS mengklaim ke Jamkesmas dan Jamkesda apabila ada MooU kab/koota tertentu," sebutnya.

Keluarga pun kata Mokaogouw, harusnya ikut berperan "Ditahan pun tidak membantu, harus dibawa ke tempat perawattan. Mendapatkan bantuan penanganan, kalau pasien Jamkesmas, ada kepesertaan tidak perlu membayar," ujarnya.

RS Ratumbuisyang pun semacam terjadi tarik ulur dengan Dinas sosial, karena Menurut Kadis Sosial Provinsi Anwar Panawar, belum ada nomenklatur dinasnya menangani orang tak waras telantar. Meski Panawar mengakui, hal itu merupakan masalah sosial yang perlu dicarikan solusi bersama.
Sejauh ini menurut Panawar, Dinas Sosial baru mengatur bantuan bagi eks pasien Rumah Sakit Jiwa. Dinas memberikan bantuan 2,5 sampai 3 juta rupiah agar eks pasien bisa memberdayakan dana tersebut

"Usaha Ekonomi Produktif, bisa diterima orang tua atau sendiri untuk usaha, ya kecil-kecilan bisa pisang goreng, bikin roti, dan lain-lain. Selama ini sudah jalan," ungkapnya.

Panawar pun berjanji, akan menyelesaikan persoalan itu berkeja sama dengan RS Ratumbuisyang. "Sedang dipikirkan, mereka juga manusia, perlu disantuni. Kita sudah berkoordonasi dengan Ratumbuisang. Hanya saja persoalannya belum masuk nomenklatur," pungkas Panawar.

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved