Vicky Minta Perhatikan Jemaat Kurang Mampu
Tribun Manado - Minggu, 12 Agustus 2012 22:05 WITA
IST
Impian dan harapan sedikitnya 135 kepala keluarga (KK) anggota Jemaat GMIM Eben Haezer Winangun Wilayah Manado Winangun memiliki gedung gereja representatif tercapai sudah.
Impian dan harapan sedikitnya 135 kepala keluarga (KK) anggota Jemaat
GMIM Eben Haezer Winangun Wilayah Manado Winangun memiliki gedung gereja
representatif tercapai sudah.
Minggu (12/08/12), kerja keras, upaya dan doa jemaat selama lebih kurang
11 tahun, sejak tahun 2001, membangun rumah ibadah terbayar sudah.
Gedung GMIM Eben Haezer Winangun Wilayah Manado Winangun ditahbiskan dan
diresmikan pemakaiannya dalam ibadah Minggu (siang).
Pdt Roy Tamaweol MTh, Wakil Ketua BPM Sinode GMIM yang menjadi khadim
sekaligus menuntun jemaat dan undangan dalam ibadah pentahbisan gedung
gereja yang dibangun sejak tahun 2001 tersebut.
Dalam khotbahnya yang didasarkan pada pembacaan Kitab Kisah
Para Rasul 2:41-47 berjudul, Cara Hidup Jemaat Pertama, Tamaweol
menitipkan pesan, kiranya jemaat yang sedang bersukacita atas gedung
baru tetap mengedepankan persekutuan dan kerukunan. "Jangan hanya soal
persembahan, iuran, dana ini itu, merusak persekutuan dan pelayanan.
Teladanilah cara hidup umat Kristen abad pertama, di tengah kekurangan,
mereka saling menguatkan, mencukupkan, melayani dan berkasih-kasihan,"
katanya.
Peresmian gereja ditandai dengan penandatanganan prasasti, pembukaan
selubung papan nama, dan gunting pita oleh Wali Kota Manado, GS Vicky
Lumentut didampingi Ketua BPMJ Sion Winangun, Pdt ML Rindengan STh,
Ketua BPMJ Eben Haezer Winangun Pdt Renata Ticonuwu STh dan Pdt
Tamaweol.
Tepuk tangan dan tawa ratusan jemaat yang hadir membahana manakala
selubung nama gereja terbuka kemudian wali kota menggunting pita tanda
peresmian. Lumentut dalam sambutannya bangga dengan swadaya jemaat yang
mampu membangun gedung megah. Wali kota memuji arsitektur, ornamen dan
disain interior gereja yang menawan. "Begitu masuk ruangan saya langsung
terpana pada desain plafonnya yang berkubah seperti gereja-gereja Eropa
dan Amerika," ujar Lumentut.
Di samping memuji, Lumentut menitip pesan kepada jemaat agar
memperhatikan persekutuan dan pelayanan diakonia. Ia minta gereja
memperhatikan jemaat yang kurang mampu dari sisi finansial. "Jangan
gerejanya megah tapi mengabaikan diakonia dan pemberdayaan jemaat," ujar
Lumentut yang juga meminta topangan jemaat terhadap upaya mensukseskan
program Pemko Manado.
Sukacita jemaat menjadi sempurna karna dalam ibadah pentahbisan
dirangkaikan dengan ibadah pengutusan dan pelantikan Ketua BPMJ Pdt
Renata Ticonuwu STh.
Selama ini, jemaat dilayani Ketua BPMJ Sion Winangun, sebagai jemaat
induk. Pdt ML Rindengan merupakan Pejabat Ketua BPMJ (sementara) yang
mempersiapkan peresmian gereja.
Ketua panitia pembangunan Hermanus Lumanauw mengungkapkan, gedung gereja
tersebut memakan biaya Rp 1,8 miliar sejak pembangunan awal, peletakan
batu pertama 21 Juni 2001. "Semuanya dilakukan secara swadaya oleh
jemaat yang telah bahu membahu, berdaya, berkorban moril dan materil,"
ujarnya.
Ketua dan sekretaris panitia peresmian, Pnt Friets Ratulangi dan Adrie
Kauntu menjelaskan, jemaat GMIM Eben Haezer Winangun merupakan 'anakan'
dari GMIM Sion Winangun. Pada tahun 2001 dibentuk kanisah (tempat
ibadah) yang bertujuan mempermudah dan mengefektifkan pelayanan jemaat.
"Karena luasnya wilayah dan banyaknya jemaat Sion Winangun. Kondisi
gereja tak mampu menampung lagi, sehingga berdiri kanisah," jelasnya.
Satu keistimewaan, lahan yang kini di atasnya berdiri gedung gereja,
merupakan aset yang dihibahkan TNI AD melalui Korem 131/Santiago.(ndo)
Penulis : Fernando_Lumowa
Editor : Andrew_Pattymahu