• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 2 Oktober 2014
Tribun Manado

Galian C di Tanjung Merah Dikeluhkan Warga

Senin, 6 Agustus 2012 16:01 WITA
Galian C di Tanjung Merah Dikeluhkan Warga
TRIBUNMANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE
Keberadaan Galian C di Kelurahan Tanjung Merah Kecamatan Matuari dikeluhkan oleh sejumlah warga yang sering melintas di depan galian C tersebut.
Laporan Wartawan Tribun Manado Christian Wayongkere.

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG
- Keberadaan Galian C di Kelurahan Tanjung Merah Kecamatan Matuari dikeluhkan oleh sejumlah warga yang sering melintas di depan galian C tersebut. Menurut mereka sering mengalami mengalami kesulitan pada pandangan saat melintas dengan motor.

"Saya sering kesulitan karena debu yang keluar dari galian C mengganggu jarak pandang pengendara kendaraan bermotor," kata Samuel Angkouw warga Tanjung Merah. Selain itu sisa-sasa tanah yang melekat dijalan membuat rawan kendaraan yang melintas, karena bisa mengancam keselamatan. "Kalau hujan turun beresiko kecelakaan saat melintas," tambahnya. Menurut Sekjen Dewan Masyarakat Adat Tanjung Merah ini, dirinya sempat menegur orang yang melakukan aktivitas di galian C tersebut, dengan kondisi yang menganggu kenyamanan dijalan.

"Saya sering sampaikan kepada mereka agar sisa galian tanah yang melekat di jalan agar dibersihkan dengan cara disiram," kata dia. Ia menilai dengan dilakukan penyiraman terhadap sisa-sisa tanah tersebut akan membuat kondisi jalan menjadi mulus dan bersih serta tidak membahayakan pengguna jalan.  "Setiap hari harus dibersihkan dan disiram pada sore harinya serta memindahkan bongkahan tanah yang ada dijalan minimal sehari 2 kali disiran," tandasnya. Sementara itu warga lainnya yang merasakan hal serupa adalah Jhon Cristofel warga Kelurahan Tanjung Merah lingkungan 1, menurutnya jika melintas pada pagi hingga sore hari banyak debu yang beterbangan hingga dijalan.

"Biasanya paling banyak debu keluar saat kendaraan berat keluar lokasi galian C sambil mengangkut material tanah," kata Jhon. Saat berpapasan dengan kendaraan yang keluar sudah pasti debu menghalangi penglihatan. "Dengan kondisi tersebut mau tidak mau harus berhenti hingga debu hilang baru melanjutkan perjalan," tandasnya.

Sementara itu Kepala dinas Tata ruang kota Bitung menjelaskan terkait galian C di Bitung pihaknya hanya menghitung luasnya saja berdasarkan rencana anggaran biaya (RAB). "Kami tidak bisa menilai galian C tersebut, yang bisa instansi teknis yang memiliki Rab," kata Alex Watimena. Dijelaskannya izin galian C setelah ada rab yang di tanda tangani. "Galian C yang memiliki HO atau tidak, kalau terganggu berarti tidak memiliki HO, kalau dia mau urus HO pasti tidak akan diterima," tambahnya.

Terpisah kepala badan perizinan Jimmy Tangkudunng mengungkapkan galian C yang ada di Bitung ada empat lokasi. "Yang masih memiliki izin ada dua tempat, sementara dua lainnya sudah tidak beroperasi," kata Tangkudung. Terkait keberadaan galian C di Kelurahan Tanjung merah pihaknya belum bisa masuk campur. "Karena belum ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK)," tambahnya.

Untuk pengurusannya, jika ada rekomendasi dari Badan lingkungan hidup dan dinas ESDM baru kami keluarkan izin. "Kami juga akan melihat luasnya yang akan digali. Kalau cuma kecil hanya satu bulan pengoprasian. Klasifikasi luas dan klasifikasi tanah tidak melebihi 4 meter kalau sudah melepati prosedur kami akan berhentikan," tandasnya.
Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Robertus_Rimawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
76524 articles 8 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas