Bantu si Miskin Jadi Maju dan Mandiri
Tribun Manado - Sabtu, 30 Juni 2012 17:30 WITA
Laporan Wartawan Tribun Manado Warstef Abisada
Profil
Nama : Miky Junita Wenur
Suami : Ir Stefanus B A N Liow
Anak : Liliziu Nalizi Liow dan Dirgatni Liow
KEMISKINAN merupakan masalah sosial terberat yang dihadapi bangsa Indonesia. Angkanya masih sangat tinggi, dan jika tak diatasi maka dapat dipastikan laju pembangunan sebuah Negara, termasuk di daerah ini pasti terhambat.
Untuk mengentaskan kemiskinan di Negara ini, termasuk wilayah Sulawesi Utara, pemerintah memiliki peran sangat penting. Namun, pada kenyataannya strategi dan program yang dijalan pemerintah belum juga mampu menyelesaikan masalah tersebut. Makanya, sejak akhir tahun 2000 lalu, Miky Junita Wenur, aktif melakukan berbagai kegiatan sosial untuk membantu mereka yang berada di garis kemiskinan. “Di Sulawesi Utara ternyata masih banyak penduduk yang miskin, jadi saya ikut tergerak untuk membantu mereka, agar mereka juga boleh merasakan bagaimana hidup berhasil dan sejahtera, seperti kebanyakan orang di daerah ini,” jelasnya, kepada Tribun Manado, Sabtu (30/6/2012).
Wanita kelahiran Tomohon, 10 September 1968 ini mengaku awal mula ia tergerak untuk ikut dalam aksi memberantas kemiskinan, terjadi ketika banyak pengungsi dari Maluku yang datang ke Sulawesi Utara. Saat itu banyak teman-teman dari luar daerah yang mengajak dan memotivasi untuk ikut membantu meringankan beban mereka, dan ternyata saat dijalaninya banyak membawa manfaat positif, dimana kepedulian bagi mereka yang berkekurangan mampu mengubah nasib Negara dan daerah ini menjadi lebih baik ke depan. “Setelah mereka pulang, kami juga termotivasi untuk membantu penduduk di Sulut yang berkekurangan,” kata Sekretaris Wanita Kaum Ibu Sinode GMIM itu.
Bagaimana upaya yang dilakukan untuk membantu masyarakat miskin menjadi maju dan mandiri di Sulut,,? Menurut Miky, yang juga menjabat Ketua Yayasan Jembatan Harapan Bersama, pihaknya tidak bersikap seperti malaikat atau sinterklas, dengan memberi bantuan langsung kepada masyarakat. Tapi, dengan member modal usaha atau dana bergulir, agar dapat dikembangkan untuk menopang perekonomian keluarga mereka.
“Kami tak bersikap seperti sinterklas dengan membawa hadiah bagi mereka yang tergolong miskin, tapi memberi modal, agar mereka mau berusaha seperti membuat kue, menjadi tibo-tibo dan usaha lainnya. Dan strategi itu cukup berhasil, banyak yang mengembalikan modal usaha tepat waktu, dan kami bisa memberikan kepada lainnya yang membutuhkan,” ujar Direktur Utama PD Pasar Tomohon ini.
Ia menjelaskan pemberian bantuan kepada warga benar-benar diverifikasi oleh timnya, untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan dana yang diberikan. “Untuk mendapat bantuan ada proses seleksinya, tak sembarang diberikan. Dan itu menjawab persoalan, karena mampu menghidupi keluarga secara kontinyu, termasuk menyekolahkan anak. Sudah ada sekitar 10 ribuan warga yang menikmati bantuan itu,” ungkapnya.
Dijelaskan Miky, penanganan penyaluran bantuan tersebut dilakukan secara paripurna oleh pihaknya, tak didasari rasa kasihan, tapi profesionalisme untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan. “Organisasi yang kuat dan dukungan keluarga menjadi kunci suksesnya program yang kami jalankan. Bahkan, di TPA Sumompo telah dijalankan program pendidikan luar sekolah, tidak dipungut biaya. Kami membangun perpustakaan bagi anak-anak disana, agar mereka boleh belajar, dan hasilnya cukup positif, karena ada beberapa anak yang diutus ketingkat nasional mengikuti lomba,” tukasnya.
Penulis : Warsteff_Abisada
Editor : Robertus_Rimawan