Melalui visualisasi gerak tari dan musik para seniman ini mengambil tempat di halaman depan sekolah yang telah melahirkan ribuan imam selama satu abad ini.Para seniman ini datang dari berbagai latar belakang pendidikan, budaya dan agama.
Namun yang bisa menyatukan mereka adalah seni itu sendiri dengan pertunjukan bertajuk "Ensiklopedia Agrobudaya". Di antara para penonton mereka menari dengan beragam kostum yang terbuat dari daun atau ranting kering.
Sedangkan Seminari Mertoyudan sendiri juga lahir di antara kultur agrobudaya dengan cermin masyarakat yang toleran. Seperti sebuah pesan yang disampaian pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori, Seminari Mertoyudan harus bisa menularkan virus perdamaian di bangsa ini.
Follow twitter kami di @Tribun_Manado untuk mengakses berita melalui twitter.
Download Tribun Manado Blackberry Launcher untuk memudahkan anda mengakses berita melalui perangkat blackberry.