Karyawan Outsourching Doakan Managemen PGE Lahendong
Tribun Manado - Senin, 28 Mei 2012 17:44 WITA
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO-Aksi mogok kerja sekitar 126 karyawan outsourching
PT Pertamina Gheotermal Energy (PGE) Area Lahendong tak terlelakkan,
Senin (28/5). Mereka memilih tak masuk kantor sebagaimana biasanya untuk
melaksanakan tugas, tapi hanya duduk di halaman kantor.
Para
karyawan mogok kerja, karena kecewa dengan kebijakan managemen yang
dinilai tak peduli dengan nasib mereka, kendati telah bekerja puluhan
tahun di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.
Mereka pun tak lupa
berkumpul di depan pos security, dan bersama-sama mendoakan managemen
yang dipimpin Khairul Rozaq sebagai General Manager PT PGE Area
Lahendong, untuk dibukakan mata dan hatinya agar memperhatikan perbaikan
kesejahteraan serta ada jaminan dihari tua.
"Kami sebagai
karyawan menolak bentuk perbudakan zaman modern, yang dilakukan
Pertamina Gheotermal dengan hanya mempekerjakan kami paruh waktu saja.
Mereka selama ini tak pernah mengakui kami, dan hanya menjadikan kami
tenaga lepas, pada hal kerja yang kami laksanakan objeknya tetap dan
terus menerus. Managemen tak pernah menanggapi positif maksud baik
kami," ujar Gomer, perwakilan karyawan, kemarin.
Gomer menduga
PGE telah melakukan penipuan dan pembodohan, sebab janji untuk
mengangkat mereka menjadi karyawan tetap tak pernah direalisasi hingga
kini. "Managemen hanya menjanjikan saja untuk mengangkat karyawan tetap,
tapi tak pernah direalisasi, hanya surga telinga saja. Ini akal-akalan
Pertamina untuk melepas tanggungjawab," ungkapnya.
Para pekerja
juga meminta Pertamina membayar selisih gaji, sebab hanya dihitung hanya
22 hari saja dari 30 hari kerja yang mereka lakukan. "Sistem pengupahan
yang dib erikan tak sesuai undang-undang, hanya 22 hari saja yang
dihitung. Itu tidak sesuai bagi kami untuk hidup layak, banyak kebutuhan
yang tak terpenuhi, terutama untuk keluarga," katanya.
Para
pekerja sendiri kini menerima gaji pokok Rp 1,6 Juta setelah kerja
sekitar 8-12 tahun, ditambah uang transport Rp 440 Ribu per bulannya.
"Upah kami hanya ketambahan Rp 500 Ribu saja setelah kerja sekian lama,
tak ada peningkatan karier juga, hanya seperti ini. Masa Pertamina yang
katanya perusahaan terpandang dan setingkat dunia, masa tidak bisa
menerapkan managemen kinerja," sesal Gomer.
Tak hanya itu,
jaminan kesehatan juga tak diperhatikan, sebab hanya pekerja saja yang
diongkosi. Tapi, anggota keluarga lain tidak sama sekali. "Jaminan
kesehatan yang diterima hanya untuk kami saja, sedangkan anggota
keluarga lain harus bayar sendiri, dan kadang dipotong dari upah yang
kami terima. Banyak kesulitan kami saat berobat di rumah sakit,"
tegasnya.
Perusahaan juga menurut dia tak memberikan jaminan
untuk hari tua. "Dengan kontrak seperti ini, tak ada jaminan masa depan
di hari tua," ungkap Gomer.
Hal senada diungkapkan Roy Laow (41),
warga Uluindano yang bekerja sebagai operator produksi selama 12 tahun
terakhir. "Kami hanya menuntut ada kejelasan di hari tua, dan perlu
penyesuaian upah. Apalagi kami tak mendapat pesangon," tuturnya.
Khairul
Rozaq, General Manager PGE Area Lahendong tak mempersoalkan adanya aksi
mogok tersebut. Sebab, operasional perusahaan tetap jalan, tidak pernah
terganggu. "Tak ada msalah mereka mogok, yang pentinga jangan anarkis
dan sabotase. Aktivitas perusahaan tetap jalan normal, karena ada
karyawan tetap disana," tegasnya.
Soal pengangkatan tenaga
outsourching menjadi karyawan tetap, bisa dilakukan tapi harus sesuai
mekanisme peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Ada yang pernah
ikut tes karyawan tetap, dan lulus sebanyak 4 orang. Untuk yang ikut dan
tidak lulus, berarti kemampuan perlu ditingkatkan, karena tes
benar-benar objektif. Di zaman saya saja, saat tes tak orang Sulut yang
lulus, jadi kompetensi memang harus ditingkatkan," terang Rozaq sembari
menambahkan pengangkatan pegawai tetap kata dia menjadi otoritas
Jakarta, tak di area Lahendong.
Soal upah menurutnya sudah
sangat baik, dibanding tenaga outsourching lainnya di daerah lain. "Gaji
outsourching di PGE Lahendong lebih baik, dibanding daerah lain. Jadi
tak ada masalah memang," tukasnya.
Penulis : Lucky_Kawengian
Editor : Andrew_Pattymahu