Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Perkebunan

Petani Ancam Bakar Kopra di Kantor Gubernur

Kalau begini terus kami akan beramai-ramai ke kantor Gubernur untuk membakar kopra

Tayang:
Laporan Wartawan Tribun Manado Quin Simatauw

TRIBUNMANADO.CO.ID, RATAHAN -  Harga kopra yang terus menukik turun membuat jeritan dan kemarahan tersendiri bagi para petani di Minahasa Tenggara. Kecamatan Tombatu timur misalnya dengan harga jual kopra masak (fufu) Rp 300 perkilogramnya.

Harga ini dirasa tak sebanding dengan pengorbanan para petani yang berhari-hari harus mengolah kelapa biji menjadi potongan-potongan kecil yang siap dijual ke pengecer besar.

"Kalau begini terus kami akan beramai-ramai ke kantor Gubernur untuk membakar kopra," tegas Jesaya Rondonuwu kepada Tribun Manado (20/5/2012).

Ia dan semua rekannya sesama petani mengaku kesulitan dan tak ada perlindungan pemerintah untuk memperbaiki nasib mereka. Ia menuntut perlindungan harga.

"Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib petani, jangan hanya PNS yang gajinya naik terus tiap tahun, tak heran lebih banyak orang suka jadi PNS daripada petani, tambahnya lagi.

Terus merosotnya pendapatan petani ditambahkan Ramli Tompunu adalah ancaman serius dan tak hanya menjadi isu dominan bagi Sulawesi Utara, tapi juga bagi Indonesia Raya yang mencatat puluhan juta masyarakatnya memiliki pekerjaan sebagai petani kelapa.

"Kelapa itu andalan Sulut dan kebanggan Indonesia kalau sudah dieskpor, kalau kami tak diperhatikan jangan salahkan kami akhirnya meninggalkan profesi ini untuk menjadi tukang ojek atau buka warung karena jadi petani rugi, jadi perhatikanlah nasib petani," tuntutnya.

Ramli memastikan proteksi harga diatas Rp 500 perkilogramnya adalah jaminan keuntungan bagi para petani.

"Kalau bisa Rp 750 perkilogramnya, itu sudah lumayan bagi kami," harapnya.(uke)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved