Minggu, 23 November 2014
Tribun Manado

Upss..Banyak Ayah di Korea Selatan Kesepian

Jumat, 18 Mei 2012 10:18 WITA

Shutterstock Ilustrasi



Tak seperti rekannya di kantor di satu kota Korea Selatan, Choi Chang-youn "ngeri" menghadapi berakhirnya setiap hari kerja, saat ia terpaksa pulang ke rumahnya yang sepi tanpa penghuni.

"Saya merasa sangat kesepian sebab tak ada istri serta anak-anak saya yang menunggu saya pulang," kata administratur yang berusia 45 tahun tersebut di rumahnya di kota Cheongju, 120 kilometer di sebelah selatan ibu kota Korea Selatan, Seoul. "Cuma ada kegelapan."

Choi adalah salah seorang dari "legiun ayah yang terus bertambah" yang mengirim keluarga mereka ke luar negeri saat anak mereka menginjak usia remaja.

Mereka berharap tindakan itu bisa membantu mereka keluar dari sistem pendidikan Korea Selatan yang sangat menekan dan belajar bahasa Inggris. Dengan begitu, anak mereka bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi serta lebih baik, dan tentunya pekerjaan yang juga lebih baik.

Istri mereka pergi bersama anak mereka, sehingga para ayah–yang dikenal sebagai "goose father" dalam ungkapan lokal–ditinggalkan untuk bekerja dan membiaya seluruh kegiatan tersebut.

"Saya mengirim dua putra saya, satu belajar di kelas sembilan dan satu lagi di kelas enam sekarang ke Michigan bersama istri saya tahun lalu," kata Choi.
"Saya ingin mereka menikmati masa sekolah mereka, memperoleh beragam pengalaman dan bukan berkutat menghadapi ujian sepanjang tahun. Itulah yang dilakukan sebagian besar pelajar di sini," ia menambahkan sebagaimana dikutip Reuters–yang dipantau ANTARA di Jakarta, Jumat pagi.

Julukan "goose father" merujuk pada kunjungan berkala yang dilakukan oleh para ayah ke keluarga mereka yang berada jauh di luar negeri, cara angsa bermigrasi setiap tahun. Sementara itu julukan lain, "eagle father", adalah pria yang cukup kaya untuk berkunjung setiap waktu mereka mau, sedangkan "penguin father" tak tahu kapan pertemuan berikut akan terjadi.

Kecenderungan keluarga yang berpisah seperti itu demi pendidikan muncul pada penghujung 1990-an, dengan keinginan yang bertambah besar untuk belajar bahasa Inggris dan menghindari persaingan kejam dalam sistem pendidikan dalam negeri.

"Ketika saya belajar di sekolah menengah atas, saya melihat teman sekelas saya berusaha menghilangkan kegugupan selama musim ujian, sebab kami tahu nama perguruan tinggi tempat kami belajar dapat dipandang sebagai ukuran seberapa baik orangtua kami telah membesarkan kami oleh orang lain di dalam masyarakat," kata Choi Hee-Kwon, mahasiswa yang berusia 23 tahun.

Tidak jarang lampu di ruang kelas sekolah menengah atas masih menyala sampai lewat pukul 22.00 agar siswa bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir CSAT, yang menentukan universitas mana yang dapat mereka masuki. Ujian selama sembilan tahun ditafsirkan sebagai pengubah hidup, sebab itu hanya berlangsung sekali dalam setahun.

Di bawah tekanan tersebut, sebagian siswa tak mampu bertahan. Sedikitnya 11 remaja telah mengakhiri hidup mereka selama lima tahun belakangan akibat kekhawatiran mengenai nilai mereka, demikian statistik dari Kantor Pendidikan Metropolitan Seoul. Akibatnya ialah makin banyak orangtua berharap bisa menyelamatkan keturunan mereka.

Jumlah siswa praperguruan tinggi dari Korea Selatan yang belajar di luar negeri telah naik jadi lebih dari 18.600 pada 2011 dari 4.300 pada 2000, demikian keterangan dari Lembaga Pengembangan Pendidikan Korea, suatu badan pemerintah. Namun hidup jauh dari menyenangkan buat semua orang yang terlibat, terutama para ayah yang harus ditinggalkan.

Menurut survei atas 151 ayah yang memiliki keluarga di luar negeri dan dilakukan pada 2011 oleh Cha Eun-Jeong di Ewha Woman’s University di Seoul, 76,8 persen menderita gizi buruk. Satu dari tiga ayah, atau 29,8 persen berada pada tahap awal depresi, tambah Cha.

Bahkan selebritas pun tak luput dari penderitaan semacam itu.

"Ketika saya pulang setelah membawa keluarga saya ke bandara, saya melihat lalat di dapur," kata Kim Taw-won, gitaris di grup rock kondang, kepada media lokal.

"Saya mau membunuh mereka, tapi tak bisa sebab saya merasa sangat kesepian. Sebentar saja, rumah pun jadi penuh lalat," katanya.
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas