• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribun Manado

Pengetahuan Seks Jangan Telat

Senin, 14 Mei 2012 14:43 WITA
Pengetahuan Seks Jangan Telat
Ist
Ilustrasi.
Oleh Julianto Simanjuntak

TRIBUNMANADO.CO.ID
- Tulisan ini bicara pentingnya edukasi seks pada anak. Kasus-kasus seks pranikah makin banyak. Itulah yang kami jumpai bersama tim dalam memberikan layanan konseling di kantor dan usai memberikan seminar di pelbagai kota. Khususnya di sekolah-sekolah. Apa yang salah?

Selain mengindikasikan adanya masalah dalam sistem keluarga, khusus untuk remaja, seks pranikah menunjukkan miskinnya informasi (edukasi) yang didapat anak lewat orangtuanya. Tentu saja,  orangtua tidak bisa berharap banyak jika informasi mengenai seks diberikan saat anak menjelang remaja; apalagi kalau mereka mulai mengenal lawan jenis atau berpacaran.

Penjelasan atau edukasi soal kehidupan seksualitas anak sebaiknya diberikan sejak dini, yakni saat anak mulai bertanya-tanya soal tubuhnya. Jangan telat dong !

Untuk itu, orangtua perlu membangun atmosfer yang menyenangkan bagi anak untuk berdiskusi. Selain itu menggunakan setiap kesempatan secara sadar untuk memberi penjelasan, sedikit demi sedikit, sesuai pengertian anak-anak kita. Saat makan bersama, nonton TV bareng atau saat dalam perjalanan mengantar anak ke sekolah.

Peran ayah

Keluarga adalah tempat anak belajar menjadi suami, istri, dan orangtua. Salah satu yang harus dipelajari seorang anak laki-laki adalah menghargai dan menghormati perempuan. Demikian juga, untuk putri kita. Dia harus bisa membawa diri dengan sopan dan bermartabat, serta tidak mudah jatuh dalam hubungan seksual pranikah.

Orangtua harus memastikan bahwa remajanya memiliki perasaan “diri saya berharga”. Rasa diri berharga ini didapat dari perasaan aman dan dikasihi yang berasal dari ikatan yang sehat dengan orangtua (self image), terutama ayah, yang dibangun sejak bayi. Selain itu tentu saja adanya pengalaman spiritual (self concept). Anak-anak tahu bahwa dirinya demikian mahal atau berharga di mata Tuhan dan orang tuanya.

Anak laki-laki adalah duplikat ayahnya. Menanamkan sifat-sifat kepahlawanan dalam diri seorang anak laki-laki dimulai dengan bagaimana seorang ayah bersikap terhadap ibu mereka. Anak-anak perempuan yang menerima cinta yang cukup dari ayah mereka tidak mudah mengubar-umbar cinta ke sembarang pria di sekitarnya. Dia mendapat cukup cinta dan perhatian dari pria terbaik dalam hidupnya saat ini, yaitu ayahnya.

Penelitian Ilmu Psikologi menemukan bahwa peran ayah sangat besar dalam menumbuhkan rasa keberhargaan dalam diri anak, baik pria maupun wanita. Anak-anak yang diabaikan ayahnya mengalami hambatan emosi tiga kali lipat dibandingkan mereka yang kekurangan kasih ibu. Tidak heran jika Alkitab penuh dengan firman dan petunjuk Tuhan bagi para ayah. Tuhan memberikan peranan yang besar pada seorang ayah dalam keluarganya.

Ketika anak-anak kami memasuki usia remaja (antara 10-11 tahun), sebagai ayah saya sudah menanamkan pentingnya menghormati ibu dan menghargai perempuan. Kamipun melatih anak-anak untuk belajar saling menghargai dalam pernikahan lewat relasi di antara kami berdua sebagai Ayah dan Ibu mereka. Kami ingin memperteguh nilai-nilai yang pernah kami sampaikan kepada mereka. Kami harap, sebagai laki-laki, kedua putra kami mengerti betapa rumitnya menjadi perempuan, istri, dan ibu.  Ayah juga berperan penting dalam Membentuk Karakter Seks Putrinya

Hubungan seksual pranikah

Mengapa terjadi kehamilan di luar pernikahan? Salah satu di antaranya adalah sikap sembarangan yang diperlihatkan terhadap lawan jenis, baik pria maupun wanita. Karena itu, ada baiknya remaja pria mengerti akibat psikologis yang bakal dialami pacarnya jika mereka melakukan hal-hal terlarang itu. Anak pria harus belajar mengendalikan hormon seksual mereka. Sedangkan anak perempuan menyadari akibat hubungan seksual dini, termasuk yang terjadi di luar pernikahan. Dengan demikian pengetahuan itu ikut membentengi mereka.

Tiga tahun lalu, kami membicarakan ini dengan anak-anak kami pada suatu pagi. Mereka sedang sarapan. Saat itu ditangan Mamanya anak-anak ada harian KOMPAS. Isi beritanya mengenai beberapa siswa SMU yang tidak ikut UASBN. Di satu kota kecil saja jumlahnya 16 orang. Penyebabnya adalah kehamilan di luar nikah.

”Kalau hubungan seksual dilakukan di luar pernikahan, tidak ada komitmen dan tanggung jawab di dalamnya,” ujar istri. ”Itu perilaku sembarangan. Makanya Tuhan melindungi perempuan dan laki-laki dalam pernikahan. Orang yang siap menikah akan punya tanggung jawab dan komitmen. Kami punya kalian, dua remaja pria. Kalian cerdas, ganteng, dan menyenangkan. Kalian jangan berlaku sembarangan pada teman perempuan. Mama kalian perempuan, lho!” kata Wita.

”Ah, teman-teman perempuanku nakal-nakal semua!” kata Moze yang saat itu masih 11 tahun. Dia membawa piring dan gelasnya ke dapur.

”Kalau aku sih suka ngata-ngatain,” sambut Abangnya berusia 15 tahun. Kamipun tertawa, sambil berteriak ”Ayo jangan terlambat sekolah!”

Walaupun nampaknya kami membicarakan soal ini sambil lalu, kami ingin menggunakan setiap moment dalam hidup kami untuk membagikan hal-hal penting mengenai pernikahan pada anak-anak kami. Mereka tidak mungkin memahaminya hanya dalam sekali percakapan. Diperlukan pengulangan-pengulangan, sampai mereka menjadikannya sebuah nilai hidup.

Hal lain yang perlu dipahami oleh remaja yang berkaitan dengan hubungan seks pranikah adalah bahaya penyakit menular seksual (PMS). Kebanyakan remaja putri menguatirkan aspek kehamilannya. Padahal, ini lebih berbahaya. Beberapa penyakit tidak segera terlihat.

Ada yang membutuhkan waktu 15-20 tahun untuk ketahuan; dan kalau selama itu si penderita melakukan hubungan seks dengan pasangan yang berbeda-beda, dia sudah menulari semua pasangan seksnya. Setelah akhirnya remaja ini menjadi pemuda dan menikah baik-baik, ternyata pasangan ini tidak bisa punya anak. Bisa jadi, itu akibat hubungan seksual pranikah yang pernah dilakukannya saat remaja.

Di luar pernikahan, laki-laki, setelah menanamkan benihnya dalam rahim perempuan, tidak bisa dituntut bertanggung jawab. Mereka boleh pergi begitu saja. Kalau terjadi kehamilan biasanya pihak perempuan yang ribut menuntut pernikahan. Tapi pernikahan yang dipaksakan seperti ini, umumnya tidak berakhir baik.

Perempuan (mungkin pasangannya juga) akan merasa bersalah. Kalau dia hamil, dia harus memelihara janinnya (kalau digugurkan dia bisa dituntut membunuh), kemudian dia melahirkan dengan kesakitan. Dia juga yang merawat bayinya atau memberikan anaknya diadopsi. Bayangkan kalau tidak ada suami yang mendampinginya. Apalagi kalau harus melahirkan di tempat penampungan, karena orangtua tidak dapat menerima kehamilan anaknya. Betapa merana dan menderita keadaan seperti ini!

Kalau Terlanjur

Keluarga perlu mengembangkan sikap lentur (adaptability) dan pengampunan. Sikap ini diperlukan dalam menghadapi berbagai problem yang mungkin tidak diduga sebelumnya. Sebagai satu sistem, rasanya ada yang harus diperbaiki dalam keluarga yang menyebabkan anak kita terjatuh dalam seks pranikah. Orangtua juga perlu melihat peran (sumbangsih) mereka dalam peristiwa tersebut.

Tidak ada remaja atau pemuda yang tidak merasa bersalah setelah melakukan seks pranikah. Mungkin saja mereka perlu nasihat, tetapi lebih dari itu, mereka membutuhkan penerimaan dan pengertian orangtua. Kami mengusulkan keterbukaan dari keluarga agar ada pertolongan bagi pasangan ini.

Pernikahan yang dilakukan semata-mata karena rasa malu atau untuk menghindarkan aib, tidak selalu menjadi jalan keluar yang baik. Rasa bersalah membutuhkan pengampunan orangtua. Kemudian jika mereka bermaksud menikah, konseling pranikah perlu dijalani dengan cara yang benar.
Editor: Robertus_Rimawan
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
68786 articles 8 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas