Tribun Manado - Minggu, 13 Mei 2012 21:09 WITA
TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON—Siapa sosok yang akan mendampingi Jimmy
Eman, setelah dilantik sebagai Wali Kota Tomohon, sisa masa jabatan 2010-2015
oleh Gubernur Sulut SH Sarundajang dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua
DPRD Andy Sengkey, hingga kini masih misteri.
Eman yang memiliki
wewenang mengusulkan dua nama calon ke DPRD Tomohon, dalam kurun waktu paling
lama 60 hari sejak dilantik, belum juga bias melakukan tugasnya. Sebab, hingga
kini partai pengusung, baik Golkar maupun Gerindra, belum merekomendasikan
nama-nama calon yang diinginkan kepada Wali Kota.
Kondisi
tersebut, menurut Ferry Liando, pengamat politik Sulut membuat Jimmy Eman, Wali
Kota Tomohon menjadi dilema untuk menentukan siapa Wakil yang pantas
mendampinginya. Apalagi, setelah sejumlah nama calon dari berbagai kalangan mencuat
seperti Putra Gubernur Sulut Ivan Sarundajang, Vonny Pangemanan, Andy Sengkey,
Nitha Wenur, Jack Palar, Ferdinand Mono Turang, Jeffry Mottoh, Melkysedek
Tangkawarouw, Hofny Kalalo, hingga calon yang diwacanakan menjadi alternatif seperti
Sekretaris Kota Tomohon Arnold Poli yang dinilai memiliki chemistry (kecocokan)
dengan Eman, hingga Ervinz Liuw, Asisten III Pemerintah Kota Tomohon.
“Pak Jimmy
Eman pasti akan dilema. Sebab, beliau mesti menampung Ivan, karena terikat
utang politik dengan Gubernru yang mendefinitifkan dia. Tapi, jika beliau
menampung Ivan dan mengabaikan calon Golkar, bisa saja dukungan politik Golkar
terhadapnya akan terganggu. Misalnya, dengan tidak didukungnya kebijakan beliau
oleh Fraksi Partai Golkar di DPRD. Bahkan, yang paling parah nanti, adalah akan
berdampak pada pencalonan kembali di periode berikut,” kata Liando kepada
Tribun Manado, Minggu (13/5).
Menurutnya, jika Ivan yang dipilih nanti, maka Eman bakal tidak leluasa
menjalankan managemen pemerintahan, sebab Ivan akan lebih dominan. Mengingat
pejabat eselon II dalam pengangkatannya “ditunjuk” Gubernur. “Pejabat eselon II
pasti akan lebih tunduk kepada Ivan, Sementera Eman, pasti akan kehilangan
dukungan Fraksi Partai Golkar, karena dianggap tidak mampu mengangkat kader Golkar
sebagai wakilnya. Jadi, sepertinya akan terdapat 2 matahari di Tomohon,” kata Dosen
Fisip Unsrat itu.
Liando
menilai jika Eman memaksakan Ivan, sebaiknya dibangun kesepakatan politik terlebih dahulu, soal pembagian kewenangan
diantara keduanya. Bahkan, ada kekhawatiran darinya Eman bisa berhadapan dengan
masalah hukum, karena persoalan kecil saja dapat digiring pada masalah politik.
“Dalam kondisi seperti ini, kedudukan Eman bisa terancam. Ia tak akan mampu
menghindar, dan jabatannya pun terancam beralih ke orang lain. Apalagi, jika
dia nantinya kehilangan perlidungan politik dari Partai Golkar,” ungkapnya.
Liando
berpandangan, baiknya Jimmy Eman sebagai Wali Kota dalam menentukan
pendampingnya dalam menjalankan pemerintahan, tunduk pada keputusan partai,
karena legitimasi dia di Golkar juga tidak begitu kuat. Sebab, dilantiknya Eman
sebagai Wali Kota bukan karena legitimasi politik, tapi hanya memenuhi
ketentuan administrative, karena hanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan
Jefferson Rumayar alias Epe, yang mengundurkan diri. “Ia (Eman) pun pasti sulit
mencari perlindungan politik rakyat Tomohon, karena ia bukan pilihan rakyat
sebagai Kepala Daerah, tapi sebagai Wakil saja mendampingi Jefferson Rumayar,”
tegas Liando.
Terpisah, Dany Tular, tokoh masyarakat Kota
Tomohon menilai yang paling berhak mendampingi Wali Kota Jimmy Eman adalah dari
kaum gender. “Saya pikir, jika dari kaum gender, Ibu Vonny Pangemanan yang
lebih cocok mendampingi Pak Wali Kota,” tukasnya.