Sabtu, 29 November 2014
Tribun Manado

Kebijakan Eman Terancam Tak didukung

Minggu, 13 Mei 2012 21:09 WITA

TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON—Siapa sosok yang akan mendampingi Jimmy Eman, setelah dilantik sebagai Wali Kota Tomohon, sisa masa jabatan 2010-2015 oleh Gubernur Sulut SH Sarundajang dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Andy Sengkey, hingga kini masih misteri.

Eman yang memiliki wewenang mengusulkan dua nama calon ke DPRD Tomohon, dalam kurun waktu paling lama 60 hari sejak dilantik, belum juga bias melakukan tugasnya. Sebab, hingga kini partai pengusung, baik Golkar maupun Gerindra, belum merekomendasikan nama-nama calon yang diinginkan kepada Wali Kota.

Kondisi tersebut, menurut Ferry Liando, pengamat politik Sulut membuat Jimmy Eman, Wali Kota Tomohon menjadi dilema untuk menentukan siapa Wakil yang pantas mendampinginya. Apalagi, setelah sejumlah nama calon dari berbagai kalangan mencuat seperti Putra Gubernur Sulut Ivan Sarundajang, Vonny Pangemanan, Andy Sengkey, Nitha Wenur, Jack Palar, Ferdinand Mono Turang, Jeffry Mottoh, Melkysedek Tangkawarouw, Hofny Kalalo, hingga calon yang diwacanakan menjadi alternatif seperti Sekretaris Kota Tomohon Arnold Poli yang dinilai memiliki chemistry (kecocokan) dengan Eman, hingga Ervinz Liuw, Asisten III Pemerintah Kota Tomohon.

“Pak Jimmy Eman pasti akan dilema. Sebab, beliau mesti menampung Ivan, karena terikat utang politik dengan Gubernru yang mendefinitifkan dia. Tapi, jika beliau menampung Ivan dan mengabaikan calon Golkar, bisa saja dukungan politik Golkar terhadapnya akan terganggu. Misalnya, dengan tidak didukungnya kebijakan beliau oleh Fraksi Partai Golkar di DPRD. Bahkan, yang paling parah nanti, adalah akan berdampak pada pencalonan kembali di periode berikut,” kata Liando kepada Tribun Manado, Minggu (13/5).

Menurutnya, jika Ivan yang dipilih nanti, maka Eman bakal tidak leluasa menjalankan managemen pemerintahan, sebab Ivan akan lebih dominan. Mengingat pejabat eselon II dalam pengangkatannya “ditunjuk” Gubernur. “Pejabat eselon II pasti akan lebih tunduk kepada Ivan, Sementera Eman, pasti akan kehilangan dukungan Fraksi Partai Golkar, karena dianggap tidak mampu mengangkat kader Golkar sebagai wakilnya. Jadi, sepertinya akan terdapat 2 matahari di Tomohon,” kata Dosen Fisip Unsrat itu.

Liando menilai jika Eman memaksakan Ivan, sebaiknya dibangun kesepakatan politik  terlebih dahulu, soal pembagian kewenangan diantara keduanya. Bahkan, ada kekhawatiran darinya Eman bisa berhadapan dengan masalah hukum, karena persoalan kecil saja dapat digiring pada masalah politik. “Dalam kondisi seperti ini, kedudukan Eman bisa terancam. Ia tak akan mampu menghindar, dan jabatannya pun terancam beralih ke orang lain. Apalagi, jika dia nantinya kehilangan perlidungan politik dari Partai Golkar,” ungkapnya.

Liando berpandangan, baiknya Jimmy Eman sebagai Wali Kota dalam menentukan pendampingnya dalam menjalankan pemerintahan, tunduk pada keputusan partai, karena legitimasi dia di Golkar juga tidak begitu kuat. Sebab, dilantiknya Eman sebagai Wali Kota bukan karena legitimasi politik, tapi hanya memenuhi ketentuan administrative, karena hanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan Jefferson Rumayar alias Epe, yang mengundurkan diri. “Ia (Eman) pun pasti sulit mencari perlindungan politik rakyat Tomohon, karena ia bukan pilihan rakyat sebagai Kepala Daerah, tapi sebagai Wakil saja mendampingi Jefferson Rumayar,” tegas Liando.

Terpisah, Dany Tular, tokoh masyarakat Kota Tomohon menilai yang paling berhak mendampingi Wali Kota Jimmy Eman adalah dari kaum gender. “Saya pikir, jika dari kaum gender, Ibu Vonny Pangemanan yang lebih cocok mendampingi Pak Wali Kota,” tukasnya.
Penulis: Warsteff_Abisada

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas