A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Awalnya Iseng Kini Nini Petani Sukses Holtikultura - Tribun Manado
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribun Manado

Awalnya Iseng Kini Nini Petani Sukses Holtikultura

Minggu, 22 April 2012 14:52 WITA
Awalnya Iseng Kini Nini Petani Sukses Holtikultura
TRIBUNMANADO/EDI SUKASAH
Tanaman holtikultura ternyata bisa tumbuuh subur di Kotamobagu. Beberapa warga Kelurahan Kobo Besar mulai mencoba menanam tanaman yang bisa tumbuh subur di daerah ketinggian. Bila pengelolaan baik, tanaman ini memberikan keuntungan yang besar.
Laporan Wartawan Tribun Manado Edi Sukasah

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU
- Tanaman holtikultura ternyata bisa tumbuuh subur di Kotamobagu. Beberapa warga Kelurahan Kobo Besar mulai mencoba menanam tanaman yang bisa tumbuh subur di daerah ketinggian. Bila pengelolaan baik, tanaman ini memberikan keuntungan yang besar.

Mulanya Nini Friadi (41) hanya iseng-ieseng saja membawa hasil holtikultura seperti kol, cabai dan  tomat dari daerah Modayag, Bolaang Mongondow Timur (Boltim) ke Manado. Pria yang menetap di Kobo Besar, Kotamobagu, ini, memanfaatkan kendaraaan yang kosong.

"Saat itu saya bekerja di Kimia Farma di Manado. Tiap akhir pekan saya pulang ke Kotamobagu. Saat itu kendaraan kan kosong, makanya saat kembali ke Manado saya bawa hasil panen para petani untuk dijual di sana," kata dia saat ditemui Tribun Manado di rumahanya beberapa waktu lalu.

Dari keisenganya tersebut, Nini justru mendapatkan keuntungan yang lumayan. Setiap minggunya, dia bisa mendapatkan uang hingga Rp 300 ribu. Dari situlah, suami Yusni Jangkarang ini tertarik untuk bertani tanaman holtikultura. Nini kemudian mulai menanam cabai atau tomat di lahan persawahan miliknya di Kobo Besar.

Ayah dari Sandi dan Dwi ini pun mulai menikmati 'gurihnya' keuntungan hasil panen tanaman holtikultura. Bahkan, sekitar tahun 2007, Nini mengajukan pensiun dini di perusahaan tempat ia bekerja sejak tahun 1994 itu. Dia betul-betul menekuni dunia pertanian yang tak ada hubunganya dengan bidang pekerjaan sebelumnya.

Ketekunan dan keseriusanya menekuni pertanian membuahkan hasil. Dia menemukan keberhasilan seorang petani bukan hanya karena pandai menanam dan merawat tanaman, tapi juga pengelolaan termasuk mengatur pola tanam. Bahkan, bagaiamana memanfaatkan lahan yang sedikit pun bisa menguntungkan.

"Lihat bagaiaman petani sawah, yang tiap hari hanya menggantungkan hasil pada padinya. Padahal, jika di pinggiranya sawah ditanam kacang panjang atau misalnya jagung manis, petani tersebut tidak harus menunggu panen padi untuk dapat keuntungan," kata dia sambil memandang seorang petani yang sedang memanen padi di sawah yang terletak di depan rumahnya.

Usaha pertanian holtikultura tersebut diikuti oleh para petani lainya di kelurahan tersebut. Lurah Kobo Besar, Asum Makalalag, satu di antara petani yang mengikuti jejak Nini Friadi. Asum mengaku mulai menanam holtikultura di lahan miliknya. "Keuntungannya lumayan," kata dia yang saat itu berada di rumah Nini.

Dikatakan, sudah ada sekitar lima hektare lahan pertanian yang menanam tanaman holtikultura. Awalnya, lahan tersebut awalnya merupakan pesawahan. "Ada sekitar 103 hektare lahan sawah. Sekarang lima hektare di antaranya sudah menjadi lahan holtikultura," kata dia.

Menariknya lagi, tambah Asum, ada perilaku masyarakat Kobo Besar yang berubah setelah mengenal pertanian holtikultura. Contohnya adalah kaum perempuan yang kini juga aktif dalam kegiatan usaha tersebut.

"Kalau dulu biasanya hanya tinggal di rumah saja, kini mereka ikut terlibat. Ada juga masyarakat yang kini menjadi pedagang. Mereka membawa hasil panen ke pasar," tambah dia. (edi sukasah)
Penulis: Edi_Sukasah
Editor: Robertus_Rimawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
66639 articles 8 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas