Senin, 25 Mei 2015

Walanda Maramis Si Pemberdaya Perempuan Minahasa

Sabtu, 21 April 2012 08:11

Walanda Maramis Si Pemberdaya Perempuan Minahasa
www.budisusilo85.blogspot.com

JASAD pahlawan nasional asal Sulawesi Utara (Sulut), Walanda Maramis telah pergi, terpendam di perut bumi. Namun, semangat perjuangannya tetap membekas di para kalangan perempuan abad ini. Perjuangan tersebut bisa direkam dari jejak bentukan organisasi Walanda Maramis yang sampai sekarang ini masih mengurat nadi, tak lekang dimakan oleh jaman modernisasi.

Biodata Singkat
Nama lengkap:
Maria Yosephine Catherina Walanda Maramis
Tempat Lahir : Kema 1 Desember 1872
Pendidikan : Sekolah Dasar
Wafat: 22 April 1924

Organisasi yang dimaksud adalah Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). Paula Lengkong, wanita asal Sulut yang masih ikut sumbangsih meneruskan perjuangan Walanda Maramis menuturkan, PIKAT berdiri Juli 1917 oleh putri asal Kawanua bernama lengkap Maria Yosephine Catherina Walanda Maramis di Minahasa.

"PIKAT membangun dan bergerak dalam pemberdayaan perempuan, kegiatan sosial, pendidikan dan budaya berwawasan kebangsaan," tuturnya, seusai acara tabur bunga HUT Walanda Maramis ke-138, di komplek pemakaman Walanda Maramis Jalan Bitung Manado, Rabu (1/12/2010).

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat PIKAT tersebut menjelaskan, atas landasan semangat luhur perjuangan Walanda Maramis, PIKAT menjadi warisan perjuangan di sepanjang jaman, berperan membangun keluarga berkualitas, mandiri dan berbudi pekerti yang tulus. "Kami akan terus tularkan ke wanita generasi muda, pewaris bangsa masa depan," ujarnya.

Baru-baru ini, ungkapnya, PIKAT melakukan gerakan sosial berupa pemberian bantuan sembako bagi 37 kepala keluarga mantan pengidap penyakit Kusta dan 80 orang untuk para janda lansia. Bahkan, wujud pengembangan sumber daya manusia perempuan Indonesia, para aktivis PIKAT tergerak menyelenggarakan pelatihan kreativitas membuat rangkaian seni bunga, busana dan memasak. "Khusus di Sulut ada 23 cabang. Jadi jika di total keseluruhan secara nasional ada 56 cabang," tuturnya.

Menelisik ke belakang, tutur Jelly Pontoh Adam Ketua Bidang I PIKAT Sulut, terbentuknya PIKAT dimuali pada masa penjajahan Belanda. Garis perjuangannya di bidang pendidikan, keterampilan dan sosial. "Dahulu belum ada kesempatan belajar yang lebih tinggi dari tingkat sekolah dasar bagi anak- anak wanita pribumi yang diciptakan oleh pemerintah Belanda di Minahasa waktu itu," katanya.

Halaman123
Editor: Andrew_Pattymahu
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas