Senin, 24 November 2014
Tribun Manado

Ternyata ini Tata Cara dan Adat Pernikahan Gorontalo

Kamis, 12 April 2012 12:47 WITA

Ternyata ini Tata Cara dan Adat Pernikahan Gorontalo
TRIBUNGORONTALO/FRANSISKA NOEL
Guna mempertajam dan menggali khasanah budaya Tonulahu lo adati pernikahan, Disparbudkominfo Kabupaten Kabupaten Gorontalo bekerjasama dengan BPSNT Manado secara khusus beberapa waktu lalu menggelar dialog budaya.
Laporan Wartawan Tribun Manado Fransiska Noel
 
TRIBUNMANADO.CO.ID, GORONTALO
- Guna mempertajam dan menggali  khasanah budaya Tonulahu lo adati pernikahan,  Disparbudkominfo Kabupaten Kabupaten Gorontalo bekerjasama dengan BPSNT Manado secara khusus beberapa waktu lalu menggelar dialog budaya.

Dialog ini mengangkat tema nilai- nilai budaya lokal untuk memperkuat jati diri dan karakter bangsa dengan menghadirkan  narasumber pakar budaya dan sejarah Gorontalo kandidat Doktor Alim S. Niode, Bate lo Limutu AW Lihu, pemerhati budaya Yamin Husain dan Kepala BPSNT Manado Drs. Rusli Manoreng.

Dialog Adat yang dibuka Asisten II Pemkab Gorontalo Hen Restu selain menghadirkan peserta para pemerhati budaya, mahasiswa dan para pelaksana adat, juga mengikutsertakan guru-guru Sejarah se kabupaten Gorontalo.

Dalam arahannya Hen Restu mengatakan seminar budaya ini tidak hanya sebatas membahas mengenai adat pernikahan semata, tapi lebih dari itu mengupas juga kebijakan mengenai hari budaya yang mengharuskan penggunaan bahasa Gorontalo, pakaian kerawang bahkan khutbah Jum’at dalam bahasa Gorontalo yang telah dicanangkan Bupati Gorontalo David Bobihoe Akib pada pembukaan Danau Limboto Karnival di pentadio resort belum lama ini.

Sementara itu Kadis Parbudkominfo Muhthar Nuna dalam laporannya menekankan bahwa pembaharuan adat Gorontalo melalui dialog budaya tidak untuk mencabut masyarakat Gorontalo dari akar nilai kegorontaloannya melainkan juga memperkukuh ikatan masyarakat ke dalam urat akar kegorontaloan.

"Dalam arti bahwa posisi nilai-nilai adat harus menjadi spirit bagi tumbuhnya semangat untuk maju, bukan malah melemahkan, atau memberi sekat – sekat larangan yang menghambat pembangunan," ungkapnya.

Menurut Muhthar, seluruh masyarakat Gorontalo harus memperbaiki pemahaman tentang nilai – nilai lokal secara jernih tanpa ada perasaan apriori, karena nilai lokal dalam bentuk adat istiadat merupakan khasana kekayaan lokal yang menurutnya patut mendapat apresiasi.

Oleh karenanya, Muhthar menegaskan dalam kegiatan dialog budaya yang mengambil topik mengenal tonulahu lo adati pernikahan Gorontalo semata-mata untuk mengingatkan kembali apa yang telah ditetapkan dewan adat mengenai urutan ataupun tata cara adat pernikahan sebagai pedoman bagi masyarakat Gorontalo.

"Bukan untuk merubah apa yang telah menjadi keputusan dewan adat pada tahun 2007 silam yang telah memutuskakan bahwa untuk Pohutu moponikah busana pengantin, dekorasi ruangan, pelaminan, dan benda budaya harus bernuansa adat Gorontalo," tuturnya.

Mengenai urutan proses pernikahan sesuai keputusan dewan adat disesuaikan dengan ketentuan adat. Tahapan monyilalo diperlukan untuk mengetahui agamanya, kecantikannya, turunannya, kesehatannya, dan keberadaan serta pendidikannya.

"Tujai dalam pale bohu disesuaikan dengan ketentuan adat, ijab kabul diusahakan dilaksanakan di masjid pada pukul 07 pagi, pesta pernikahan tidak melewati pukul 12 dan tidak perlu menunggu pejabat, resepsi yang dilaksanakan pada malam hari dimulai pada pukul 20.00  – 21.30 Wita dan tidak harus memakai pakaian adat, serta tarian tidi ditiadakan," jelasnya.

Untuk pengaturan pelaminan harus disesuaikan dengan nuansa islami, pada acara peminangan dihindari transaksi dagang, pesta pernikahan harus menghadirkan orang miskin dan anak yatim piatu, serta dalam pesta pernikahan dihindari pamor kekuasaan dan pamor kekayaan. (ika)
Penulis: Fransiska_Noel
Editor: Robertus_Rimawan

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas