A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Pekan Depan Kuasa Hukum dan Ahli Waris Bertemu Pertamina Pusat - Tribun Manado
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 Juli 2014
Tribun Manado

Pekan Depan Kuasa Hukum dan Ahli Waris Bertemu Pertamina Pusat

Jumat, 13 Januari 2012 21:00 WITA
Laporan Wartawan Tribun Manado Christian Wayongkere


TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG
-  Kuasa Hukum ahli waris keluarga Simon Tudus dan Martinus Pontoh memberikan batas waktu 14 hari pembayaran oleh pihak pertamina dalam pertemuan dengan operation head (OH) terminal BBM pertamina Bitung.

Di ruang pertemuan terjadi perdebatan yang sangat alot antara pihak Pertamina, keluarga ahli waris Simon Tudus, dan Martinus Pontoh. "Kapan pembayaran ganti rugi terhadap terhadap ahli waris," tanya kuasa hukum Husein Ibrahim.

Menurutnya, saat ini siapa yang berhak memperoleh pembayaran sudah sangat jelas dengan hasil putusan mahkamah agung. "Berdasarkan PK no 45 sudah menolak PK Dirut pertamina pusat, dan memenangkan dua ahli waris yang melakukan gugatan," tuturnya.

Ia menilai pihak pertamina dalam melaksanaklan kewajibannya membayar sering memperlambat dan mempersulit kuasa hukum dan ahli waris dengan berbagai dalil. "Kuasa hukam pertamina pusat selalu berkilah bahwa tinggal menunggu pengacara negara sementara kami sudah bertemu dengan Jamdatum yang menerangkan bahwa pertamina harus membayar, karena pengacara negara bukan penentu kebijakan," tuturnya Husein yang mengaku kenal dengan Kapolri Trimur Pradopo dan Presiden RI SBY.

Mendengar penjelasan dan keinginan dari kuasa hukum dan ahli waris Operation Haed (OH) Terminal BBM Pertamina Bitung Guntur Mewengkang mengaku tidak memahami duduk persoalannya dari segi hukum. "Saya tidak begitu memahami duduk persoalannya," kata Mewengkang. Ia pun terus menerus diberikan keterangan dan pemahaman dari para ahli waris.

Kuasa hukum memberikan batas waktu 14 hari sejak hari kemarin untuk melakukan kewajiban pertamina. "Kami beri waktu 14 hari untuk penyelesaian hak ahli waris dari pertamina," ujar Husein. Mewengkang pun langsung menghubungi Alvian Vice presiden suplay and distribusi pertamina pusat terkait tuntutan mereka. "Hari Selasa akan memediasi ahli waris dan kuasa hukum untuk bertemu dengan kuasa hukum pertamina dan pihak pertamina pusat guna penyelesaian masalah ini," kata Alvian melalui sambungan telpon.

"Harus ada kepastian hukumnya tetang ahli warisnya, dan akan diselesaikan segera," tutur Alvian. Lanjutnya, dirinya belum tahu kondisi terakhir, karena masih akan bertanya dengan jamdatun syarat-syarat apa yang akan diperbuat pertamina untuk masalah ini. "Agar supaya kami tidak salah dalam membayar," tuturnya.

Mendengar pembicaraan yang dilakukan antara kuasa hukum ahli waris dan pihak pertamina pusat, Jecky Ticoalu satu di antara ahli waris sempat bersikeras tidak menerima dengan hasil tersebut dan mengancam akan memblokade terminal BBM serta akan mendudukinya bersama massa. "Saya mau kepastian yang jelas dari pertamina akan membayar atau tidak," teriaknya. Namun setelah diberi pengertian dari kuasa hukum akhirnya ia menerima solusi yang diberikan.  

Hasil pertemuan tersebut menghasilkan catatan bahwa pihak ahli waris diundang langsung oleh pertamina pusat untuk bertemu dan membicarakan langsung persoalan yang melilit terminal pertamina Bitung yang sudah bertahun-tahun lamanya.

"Hari selasa kami akan berangkat untuk membicarakan berapa pembayaran dari pertamina terhadap lahan seluas kurang lebih 7.5 hektar," kata Husein usai pertemuan.

Lanjutnya, jika dalam pertemuan tersebut tidak ada kata sepakat mengenai harga yang akan dibayarkan, mereka akan menutup, menyegel terminal BBM pertamina. "Jika tidak ada titik temu kami akan usir dan keluarkan pertamina dari kota Bitung dan dari tanah kami," kata dia. Usai melakukan pertemuan, massa membubarkan diri dengan aman, dan massa lainnya memasang 8 spanduk yang bertuliskan berbagai kalimat. (crz)
Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: Anthonius_Iwan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas