Kamis, 18 Desember 2014
Tribun Manado

Home Schooling Suatu Alternatif Mendidik Anak

Rabu, 5 Oktober 2011 22:00 WITA


Oleh: JF Nainggolan
MCN

Benarkah kegiatan disekolah menjemukan seperti yang dikeluhkan para siswa? Jika bukan karena tuntutan kebutuhan, akankah mereka rela menghabiskan waktu selama lebih dari belasan tahun menimba ilmu disatu institusi yang bernama lembaga pendidikan itu?

Keluhan terhadap sistem pendidikan di negeri ini memang cukup tinggi. Jam mata pelajaran yang melimpah adalah salah satu alasan murid menjadi luar biasa jenuh. Jika UNESCO mensyaratkan 800-900 jam pelajaran pertahun untuk SD, Indonesia justru memberlakukan 1400-an jam pertahun.

Pola pendidikan homeschooling yang belakangan menjadi trend, seolah menjadi oase bagi kaum yang bersifat antitesis terhadap metode pendidikan konvensional. Beberapa kalangan masyarakat lebih suka menerapkan pendidikan pola ini dibandingkan sekolah formal pada umumnya.

Homeschooling biasa diartikan sebagai kegiatan belajar yang dilakukan di lingkungan rumah, sebagai pengganti atau pelengkap kegiatan belajar disekolah formal pada umumnya.

Ini bukanlah barang baru, karena beberapa tokoh dunia seperti presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan Theodore Roosevelt serta Alexander Graham Bell (penemu telepon) atau pahlawan nasional KH Agus Salim, termasuk salah satu diantara alumnus homeschooling ini.

Bentuknya bisa belajar mandiri dengan orang tua, guru privat, kelompok belajar atau bahkan dalam sebuah bentuk sekolah rumah tinggal. Tujuannya adalah memberikan pelajaran pada siswa dalam lingkungan belajar yang lebih menyenangkan dan juga lebih mandiri.

Saat ini homeschooling bukan lagi menjadi pilihan beberapa individu semata. Belum lama ini, asosiasi homeschooling dan pendidikan alternative (asah pena) yang diprakarsai oleh Seto Mulyadi resmi disahkan keberadaannya. Artinya, program pendidikan semacam ini memang menjadi salah satu alternatif masyarakat yang haus akan pendidikan, namun enggan mengenyam bangku sekolah formal.

Menurut Ketua Umum Asah Pena yang juga palar pendidikan anak, Seto Mulyadi, homeschooling adalah pilihan baru bagi masyarakat yang ingin menimba ilmu tanpa harus terikat lembaga pendidikan. Artinya, anak atau seseorang bisa belajar dirumah dengan standar pendidikan yang sama dengan yang mereka dapatkan disekolah formal pada umumnya.

Konsepnya sendiri sama dengan sistem belajar di sekolah formal umumnya, hanya saja lingkungan belajarnya yang berbedan lebih sanati dan lebih menyenangkan bagi para siswanya. Sekolah model homeschooling ini adalah metode belajar yang paling fleksibel bisa dilakukan siapapun, dimanapun, kapanpun dan dengan mediasi apapun, sehingga proses belajar tidak terbatas ruang dan waktu.

Program pendidikan mandiri yang bisa diterapkan disegala umur inipun memberikan efek positif bagi pengembangan kepribadian sang anak. Dengan teknik belajar di rumah ini, anak menjadi tidak cepat bosan, dan bisa tampil sebagai dirinya sendiri dan mengembangkan bakatnya dengan lebih maksimal.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran orang tua sebagai pendukung utamanya. Karena sistem belajar dirumah, maka orang tua akan tampil sebagai guru utama, selain juga mubgkin guru-guru privat yang di datangkan.

Karena itu, sejak awal orang tua sudah harus paham apa itu metode homeschooling dan bagaimana menerapkannya pada anak-anak mereka. Kalau orang tua sudah paham, maka memberikan pemahaman pada anaknya akan lebih mudah dilakukan.

Penerapannyapun bisa dilakukan dengan beragam cara. Mulai dari yang paling sederhana, dimana murid mendapatkan pengajaran dari guru utama yaitu orang tua, hingga dapat program sekolah rumah tinggal, bagi sekelompok anak dengan tenaga pengajar guru privat.

Konsep sekolah rumah tinggal ini bisa dilakukan kepada beberapa anak sekaligus dalam satu kelompok, agar dapat mengurangi efek negatif kurangnya sosialisasi dari program homeschooling ini, tandas Kak'Seto yang mengaku ikut menerapkan sistem homeschooling pada anaknya sejak mereka masih SMU.

Program homeschooling ini bukan semata-mata ditujukan bagi mereka yang bersikap antittesa pada dunia pendidikan formal, namun juga bisa diterapkan pada anak tinggal sekolah atau mereka yang karena kesibukkannya tidak memiliki waktu luang untuk belajar dalam lembaga pendidikan formal, seperti halnya yang dilakukan oleh artis sinetron Nia Ramadhani.

Bintang sinetron Bawang Merah Bawang Putih ini mengaku memiliki program homeschoolong sebagai tambahan ilmu diluar sekolah formal yang masih digelutinya. Dia sudah setahun belakangan ini ikut homeschooling lewat internet dan menfaku banyak terbantu dengan program tersebut.

Karena kesibukannya syuting sinetron dan beragam acara lain, dia mengaku tertinggal pelajaran di kelas "Saya mengejar ketinggalannya dengab pelajaran yang bisa saya dapat lewat internet".

Program homeschooling saat ini sudah disertakan dengan sekolah formal umum lainnya, seperti diatur pasal 27 UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Menurut direktur kesetaraan Kemendiknas, homeschooling dikategorikan sebagai jenis pendidikan informal atau non formal.

UJIAN KESETARAAN
Untuk mendapatkan kesetaraan, peserta wajib mengikuti ujian kesetaraan lewat ujian paket A (SD), B (SMP) atau C (SMU), dengan verifikasi apakah sang pengajar benar-benar kompeten untuk menggantikan materi belajar di sekolah biasa.

Selain itu, pihak orang tua dan peserta wajib memberikan laporan pendidikan berkesinambungan dalam bentuk laporan rutin yang ditujukan kepada Dinas Pendidikan setempat, hingga mereka mengikuti ujian kesetaraan.

Sesuai UU Sisdiknas, pendidikan non formal seperti homeschoolong ini dapat menjadi pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal. Bentuknya sendiri bisa berbentuk lembaga kursus pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat dan satuan pendidikan sejenis lainnya.

Mengenai kurikulum mata pelajaran homeschooling ini sama dengan kurikulum yang diberikan disekolah formal. Materi kurikulum homeschooling 100 persen mengacu pada kurikulum nasional yang mencangkup lima materi, yaitu Iptek, Kewarganegaraan, Olahraga, Etika dan Estetika.

Meskipun demikian, metode yang diberikan agak sedikit berbeda, dimana sekolah dibuat seperti tamasya yang menyenangkan, sehingga tidak lagi menjemukan bagi peserta didik.

Homeschooling memang cukup sukses dibeberapa negara. Namun apakah metode ini akan berhasil di tanah air? Lewat peran serta semua pihak, mulai dari siswa, orang tua hingga pemerintah diharapkan metode ini bisa diterima dan sukses dalam pelaksanaannya.

Untuk itu kiranya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dapat mengeluarkan standar minimal homeschooling di Indonesia, agar pendekatan sistem pembelajaran ini memperoleh pengakuan yang absah dan lebih besar di tanah air.
Editor: Andrew_Pattymahu

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas