»
Tajuk Tamu
Home Schooling Suatu Alternatif Mendidik Anak
Tribun Manado - Rabu, 5 Oktober 2011 22:00 WITA
Oleh: JF Nainggolan
MCN
Benarkah
kegiatan disekolah menjemukan seperti yang dikeluhkan para siswa? Jika
bukan karena tuntutan kebutuhan, akankah mereka rela menghabiskan waktu
selama lebih dari belasan tahun menimba ilmu disatu institusi yang
bernama lembaga pendidikan itu?
Keluhan terhadap sistem
pendidikan di negeri ini memang cukup tinggi. Jam mata pelajaran yang
melimpah adalah salah satu alasan murid menjadi luar biasa jenuh. Jika
UNESCO mensyaratkan 800-900 jam pelajaran pertahun untuk SD, Indonesia
justru memberlakukan 1400-an jam pertahun.
Pola pendidikan
homeschooling yang belakangan menjadi trend, seolah menjadi oase bagi
kaum yang bersifat antitesis terhadap metode pendidikan konvensional.
Beberapa kalangan masyarakat lebih suka menerapkan pendidikan pola ini
dibandingkan sekolah formal pada umumnya.
Homeschooling biasa
diartikan sebagai kegiatan belajar yang dilakukan di lingkungan rumah,
sebagai pengganti atau pelengkap kegiatan belajar disekolah formal pada
umumnya.
Ini bukanlah barang baru, karena beberapa tokoh dunia
seperti presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan Theodore Roosevelt
serta Alexander Graham Bell (penemu telepon) atau pahlawan nasional KH
Agus Salim, termasuk salah satu diantara alumnus homeschooling ini.
Bentuknya
bisa belajar mandiri dengan orang tua, guru privat, kelompok belajar
atau bahkan dalam sebuah bentuk sekolah rumah tinggal. Tujuannya adalah
memberikan pelajaran pada siswa dalam lingkungan belajar yang lebih
menyenangkan dan juga lebih mandiri.
Saat ini homeschooling bukan
lagi menjadi pilihan beberapa individu semata. Belum lama ini, asosiasi
homeschooling dan pendidikan alternative (asah pena) yang diprakarsai
oleh Seto Mulyadi resmi disahkan keberadaannya. Artinya, program
pendidikan semacam ini memang menjadi salah satu alternatif masyarakat
yang haus akan pendidikan, namun enggan mengenyam bangku sekolah formal.
Menurut
Ketua Umum Asah Pena yang juga palar pendidikan anak, Seto Mulyadi,
homeschooling adalah pilihan baru bagi masyarakat yang ingin menimba
ilmu tanpa harus terikat lembaga pendidikan. Artinya, anak atau
seseorang bisa belajar dirumah dengan standar pendidikan yang sama
dengan yang mereka dapatkan disekolah formal pada umumnya.
Konsepnya
sendiri sama dengan sistem belajar di sekolah formal umumnya, hanya
saja lingkungan belajarnya yang berbedan lebih sanati dan lebih
menyenangkan bagi para siswanya. Sekolah model homeschooling ini adalah
metode belajar yang paling fleksibel bisa dilakukan siapapun, dimanapun,
kapanpun dan dengan mediasi apapun, sehingga proses belajar tidak
terbatas ruang dan waktu.
Program pendidikan mandiri yang bisa
diterapkan disegala umur inipun memberikan efek positif bagi
pengembangan kepribadian sang anak. Dengan teknik belajar di rumah ini,
anak menjadi tidak cepat bosan, dan bisa tampil sebagai dirinya sendiri
dan mengembangkan bakatnya dengan lebih maksimal.
Keberhasilan
program ini tidak lepas dari peran orang tua sebagai pendukung utamanya.
Karena sistem belajar dirumah, maka orang tua akan tampil sebagai guru
utama, selain juga mubgkin guru-guru privat yang di datangkan.
Karena
itu, sejak awal orang tua sudah harus paham apa itu metode
homeschooling dan bagaimana menerapkannya pada anak-anak mereka. Kalau
orang tua sudah paham, maka memberikan pemahaman pada anaknya akan lebih
mudah dilakukan.
Penerapannyapun bisa dilakukan dengan beragam
cara. Mulai dari yang paling sederhana, dimana murid mendapatkan
pengajaran dari guru utama yaitu orang tua, hingga dapat program sekolah
rumah tinggal, bagi sekelompok anak dengan tenaga pengajar guru privat.
Konsep
sekolah rumah tinggal ini bisa dilakukan kepada beberapa anak sekaligus
dalam satu kelompok, agar dapat mengurangi efek negatif kurangnya
sosialisasi dari program homeschooling ini, tandas Kak'Seto yang mengaku
ikut menerapkan sistem homeschooling pada anaknya sejak mereka masih
SMU.
Program homeschooling ini bukan semata-mata ditujukan bagi
mereka yang bersikap antittesa pada dunia pendidikan formal, namun juga
bisa diterapkan pada anak tinggal sekolah atau mereka yang karena
kesibukkannya tidak memiliki waktu luang untuk belajar dalam lembaga
pendidikan formal, seperti halnya yang dilakukan oleh artis sinetron Nia
Ramadhani.
Bintang sinetron Bawang Merah Bawang Putih ini
mengaku memiliki program homeschoolong sebagai tambahan ilmu diluar
sekolah formal yang masih digelutinya. Dia sudah setahun belakangan ini
ikut homeschooling lewat internet dan menfaku banyak terbantu dengan
program tersebut.
Karena kesibukannya syuting sinetron dan
beragam acara lain, dia mengaku tertinggal pelajaran di kelas "Saya
mengejar ketinggalannya dengab pelajaran yang bisa saya dapat lewat
internet".
Program homeschooling saat ini sudah disertakan dengan
sekolah formal umum lainnya, seperti diatur pasal 27 UU Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Menurut direktur kesetaraan
Kemendiknas, homeschooling dikategorikan sebagai jenis pendidikan
informal atau non formal.
UJIAN KESETARAAN
Untuk mendapatkan
kesetaraan, peserta wajib mengikuti ujian kesetaraan lewat ujian paket A
(SD), B (SMP) atau C (SMU), dengan verifikasi apakah sang pengajar
benar-benar kompeten untuk menggantikan materi belajar di sekolah biasa.
Selain
itu, pihak orang tua dan peserta wajib memberikan laporan pendidikan
berkesinambungan dalam bentuk laporan rutin yang ditujukan kepada Dinas
Pendidikan setempat, hingga mereka mengikuti ujian kesetaraan.
Sesuai
UU Sisdiknas, pendidikan non formal seperti homeschoolong ini dapat
menjadi pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal. Bentuknya
sendiri bisa berbentuk lembaga kursus pelatihan, kelompok belajar, pusat
kegiatan belajar masyarakat dan satuan pendidikan sejenis lainnya.
Mengenai
kurikulum mata pelajaran homeschooling ini sama dengan kurikulum yang
diberikan disekolah formal. Materi kurikulum homeschooling 100 persen
mengacu pada kurikulum nasional yang mencangkup lima materi, yaitu
Iptek, Kewarganegaraan, Olahraga, Etika dan Estetika.
Meskipun
demikian, metode yang diberikan agak sedikit berbeda, dimana sekolah
dibuat seperti tamasya yang menyenangkan, sehingga tidak lagi menjemukan
bagi peserta didik.
Homeschooling memang cukup sukses dibeberapa
negara. Namun apakah metode ini akan berhasil di tanah air? Lewat peran
serta semua pihak, mulai dari siswa, orang tua hingga pemerintah
diharapkan metode ini bisa diterima dan sukses dalam pelaksanaannya.
Untuk
itu kiranya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dapat mengeluarkan
standar minimal homeschooling di Indonesia, agar pendekatan sistem
pembelajaran ini memperoleh pengakuan yang absah dan lebih besar di
tanah air.
Editor : Andrew_Pattymahu