Perayaan Binarundak

Perayaan Binarundak Habiskan Dua Ton Beras

Dua ton beras ketan, ribuan butir kelapa dan sekitar 6.000 ruas bambu dipersiapkan masyarakat Motoboi Besar

Perayaan Binarundak Habiskan Dua Ton Beras
TRIBUNMANADO/EDI SUKASAH
Warga Motoboi Besar mempersiapkan perayaan Binarundak yang akan dilaksanakan Sabtu (3/9/2011). Foto Jumat (2/9/2011).
Laporan Wartawan Tribun Manado, Edi Sukasah

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Dua ton beras ketan, ribuan butir kelapa dan sekitar 6.000 ruas bambu dipersiapkan masyarakat Motoboi Besar untuk menyambut Hari Raya Binarundak yang rencananya digelar Sabtu (3/9/2011).

Tak hanya itu, warga di empat lingkungan yang berada di kelurahan tersebut menyiapkan juga ratusan kilogram bumbu seperti bawang merah dan serai. Bertruk-truk serabut kelapa atau gonofu akan membakar nasi jahe atau binarundak pada hari raya tersebut.

Ketua RT VII Kelurahan Motoboi Besar Sunarto Dilapanga mengatakan Hari Raya Binarundak tahun ini sudah memasuki tahun keempat. Perayaaan ini dilaksanakan tiga hari setelah perayaan Idul Fitri.

"Kegiatan ini awalnya diprakarsai oleh warga Motoboi Besar yang berada di perantauan dan juga tentu saja yang masih berdiam di sini. Tujuanya untuk menjalin tali silaturahim sesama warga," ujar Sunarto, Jumat (2/9/2011).

Dia mengakui Festival Binarundak ini terinspirasi oleh perayaan Lebaran Ketupat yang lazim dilaksanakan tujuh hari setelah Idul Fitri oleh masyarakat Jaton di Minahasa atau Gorontalo. Bedanya, selain waktu pelaksanaaan, juga jenis makanan yang disajikan.

"Nasi Jahe atau atau Binarundak dalam bahasa Mongondow merupakan makanan khas Sulawesi Utara. Kalau ketupat kan memang sudah umum, dimana pun ada," kata dia.

Ada banyak filosofi yang dikandung dari Binarundak tersebut. Satu di antaranya, ujar pria yang biasa dipanggil Narto ini adalah memperat persatuan dari berbagai macam perbedaan. Bahan utama Binarundak memang beras ketan, namun tak akan menjadi enak tanpa bumbu-bumbu dan bahan lainya.

"Semuanya dimasukan dalam satu ruas buluh (bambu) melalui Mogolit atau pembungkus dari daun pisang. Itu satu di antara makna filosofi yang dapat diambil dari Binarundak," kata Narto menjelaskan.

Ril, warga Motoboi Besar menambahkan, pada perayaan Binarundak tersebut semua orang bisa minta dan membawa nasi jahe tersebut. "Jika memang ada yang lewat kampung ini, bisa membawa nasi jahe. Gratis," kata Ril.

Sehari sebelum pelaksanaan, tenda terbuat dari bambu dan beratapkan sudah terpasang. Tak tanggung-tanggung tempat untuk membakar nasi jahe itu berderet hampir sepanjang 1 kilometer di jalan utama kelurahan tersebut.

Warga saling bahu membahu menyiapkan perayaan Binarundak tersebut. Bahkan, ada juga yang sukarela menyiapkan peralatan audio. Kesibukan tampak di pinggir jallan di mana tenda-tenda disiapkan.

Penulis: Edi Sukasah
Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved