A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Harga Kopra Sulut Anjlok - Tribun Manado
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 31 Agustus 2014
Tribun Manado

Harga Kopra Sulut Anjlok

Jumat, 18 Maret 2011 10:26 WITA
Harga Kopra Sulut Anjlok
NET
ILUSTRASI
TRIBUNMANADO.CO.ID-Sejumlah petani kopra di Sulut belakangan mulai resah menyusul anjloknya harga jual kopra ke pengumpul maupun ke pabrik. Pasalnya, harga kopra perkilo kini hanya di kisaran Rp 6.000-7.000 dari sebelumnya di angka Rp 11.000 perkilo pada akhir Januari dan awal Februari lalu.

Bahkan, tiga pekan terakhir harganya terus mengalami fluktuasi dan sempat terjun bebas menyentuh level terendah Rp 3.000 perkilonya, sebelum kembali stabil ke angka Rp 6.000-7.000. Pabrikan kopra menyebut fluktuasi harga terjadi karena harga pasaran kopra dunia juga terkoreksi seiring berkurangnya permintaan.

Namun penjelasan itu agaknya belum menenteramkan petani. Sebab, mereka dalam sehari pernah mengalami penurunan harga hingga tiga kali. Tak hanya fluktuatif, jebloknya harga kopra juga tidak sama antara satu dengan daerah lain. Di Minut, harga kopra sempat menembus angka Rp 5.000 perkilonya hanya sepekan sebelumnya masih nangkring Rp 10.000 perkilo.

"Hari ini (Kamis), (harga) yah lumayan. Harga kopra naik lagi jadi Rp 500-600 ribuan per 100 kilonya. Tapi, minggu lalu sempat turun Rp 300 ribuan," ungkap Ferry Lahope, petani kopra asal Desa Sarawet, Likupang Timur, Minut, Kamis (17/3).  Parahnya, dalam sehari bisa berubah tiga kali turunnya.
"Jumat minggu lalu. Pagi, siang dan sore harga beli berbeda. Dari tadinya Rp 800 ribu, siangnya jadi Rp 600 ribu, dan sore menjelang malam sudah jadi Rp 400 ribu. Turun drastis!" serunya mengungkap jeritan hati. Senada Evert Joice, petani kopra di kecamatan sama. Akibat terus turun harga, uang habis menutup biaya transportasi.

Kendati lebih baik ketimbang di Minut. Tiga pekan terakhir harga kopra juga terus longsor menjadi Rp 7.100 perkilo. Pengumpul kopra mengaku tidak bisa berbuat banyak menolong petani. Karena harga sesuai patokan pabrikan kopra. "Kami beli dari petani Rp 6.800 dan jual ke pabrik Rp 7.100 perkilo," ungkap Yesinta Erlasu, Pengumpul Kopra di Girian Atas.
Dirinya selama ini mengunmpulkan kopra dari petani di Bitung dan Minut. Petani Minut menjual ke Bitung karena harga lebih tinggi ketimbang di Minut. Setelah terkumpul 20 karung, dengan beret setara 70-100 kilogran, selanjutnya dijual ke pabrika. "Saya biasa menjual ke PT Agro dan MNS," sebutnya.

Dengan turunnya harga kopra, dia mengaku biasanya berimbas pada suplai ke pabrik kopra karena petani enggan melepas kopranya ke pengumpul. "Waktu (harga kopra) meningkat sehari bisa 5 ton. Sekarang paling hanya 3 ton," ungkap Yesinta. Dia menambahkan, dalam dua hari terakhir harga beli di tingkat pengumpul masih stabil.

Pengumpul katanya, harus rajin mengecek ke pabrik agar tidak tekor sewaktu membeli dari petani dan menjual ke pabrik. "Setiap hari suami saya cek harga. Kalau tidak bisa rugi," ucapnya.

Keresahan juga menjalar ke petani kopra di Minsel. Jimmy Agustinus, petani kopra Desa Kilometer Tiga mengaku kopranya diharga Rp 6.000 perkilo.
Memang harga itu di tingkat pengumpul karena mereka melepas ke PT Cargill Amurang Rp 7.000 perkilonya. "Harga memang cepat turun," sebutnya. Persoalannya, PT Cargil hanya membeli dalam partai besar yakni minimal 10 karung. Karenanya, dia akhirnya memilih menjual ke pengumpul, kendati harus merelakan Rp 1.000 perkilonya pindah ke pengumpul.

Apalagi, dia hanya mampu menjual sebanyak lima karung. Alasan lainnya, menjual ke pengumpul dirinya bisa mendapatkan modal produksi ke depan. "Keuntungannya kami bisa pinjam uang di muka. Nanti dipotong dari hasil panen," jelasnya menyebut transaski ijon itu.

Permintaan berkurang
Terpisah, David Mogono, Bagian Pemasaran PT Cargill mengatakan, pihaknya tidak pernah membatasi pembelian kopra petani. Namun memang pabrik hanya mau membeli minimal 10 karung. Tidak boleh kurang dari itu.
Soal harga, dia menyebut karena penurunan harga pasaran dunia. "Posisi saat ini, PT Cargill ambil kopra seharga Rp 7.000," sebutnya. Senada Iwan, Bagian Pembelian Kopra PT Multi Nabati Sulawesi (MNS). Katanya, harga kopra sejak dua pekan lalu memang turun. Pabriknya membeli ke pengumpul kini seharga Rp 7.200 perkilo.

Penurunan, katanya akibat resesi dunia sehingga permintaan juga merosot seiring turunnya nilai tukar dolar. Karena ekpor katanya, ke eropa. "Pembelian memakai dolar," ungkapnya. Fery, petani kopra di Minut juga mengamini. Dari pengumpulnya, dia mendengar pabrikan kopra juga menurunkan harga beli ke pengumpul.

"Pembeli di kampung kami harus sesuaiakan harga pabrik. Jadi kalau harga pabrik turun, harga beli ke petani turun," katanya. Marthin Tarigan, Kabid Produksi dan Perlindungan Tanaman, Dinas Perkebunan Minsel mengatakan, komoditas kopra harganya memang mengikuti harga pasar dengan pusat transaksi di Den Haag, Belanda.

"Itu juga berlaku buat tanaman seperti pala, dan kayu manis. Kecuali cengkih yang harga minimumnya dilindungi," sebutnya. Dia juga mendengar sejumlah petani yang kecewa dengan penurunan harga itu. Dia mengungkapkan, kenaikan harga di akhir Januari dan awal Februari karena ada kapal Filipina singgah di Amurang dan Bitung. Sehingga harga bersaing. Jhon Sendow, Asisten II Pemkab Minsel menyebut penurunan harga karena fluktuasi harga pasar dunia.

Harga berbeda  

Mengantisipasi penurunan produksi kopra di Minsel. Jhon mengaku terjadi lantaran adanya alih fungsi lahan. Seperti mengubah kebun menjadi permukiman. "Juga usia kelapa sudah tua, dan pengaruh penyakit busuk pucuk," jelasnya. Karena itu, pihaknya telah menginstruksikan Dinas Perkebunan Minsel meremajakan kelapa dengan kelapa dalam.

Sebagai penguat argumentasi, Disbun Minsel menyodorkan data. Tahun 2009, dari kelapa perkebunan rakyat dengan lahan seluas 46.289,75 hektare. Hanya 36.939,5 hektare yang menghasilkan kelapa. Sisanya kelapa rusak atau belum tumbuh. Dengan kapasitas produksi (2009) sebanyak 50.058,28 ton kopra.
Artinya, pemanfaatan kapasitas masih belum maksimal. Sebagai pembanding, Disbun Minsel menyodorkan pengelolaan perkebunan swasta. Dari lahan seluas 1.357,36 hektare, lahan 1.289,36 hektare menghasilkan. Sisanya belum tumbuh atau kelapa rusak. Dengan kapasitas produksi setara 1.603,49 ton kopra.

Kabar buruknya, berdasar sementara 2010. Kapasitas produksi tahun ini justru turun. Dari lahan seluas 47.751 hektare, hanya keluar kopra 51.660 ton. Namun langkah itu dinilai belum menyelesaikan persolan. Kalangan petani berharap pemerintah berakhir menekan merosotnya harga dengan mengendalikan harga di tingkat pabrikan. "Memang torang tahu. Harga kopra tergantung permintaan pabrikan. Tapi pemerintah harusnya bisa menyetabilkan harga," pintanya.

Apalagi khusus komoditas cengkih, pemerintah bisa. Kenapa tidak bisa dengan kopra. "Biar petani tidka rugi," imbuh Joice. Pantauan di lapangan, harga pasaran kopra di Sulut satu dan daerah lain terbukti berbeda. Di Minut sempat nyungsep Rp 3.000 perkilo. Di Minsel tak pernah beranjak dari Rp 6.000 perkilo. Bitung lebih beruntung karena pabrikan berani beli Rp 7.200 perkilo.

Kepala Disperindag Sulut, Sany J Parengkuan berkilah perbedaan harga semata akibat fluktuasi harga pasaran dunia. Sehingga fluktuasinya bisa terjadi tiba-tiba. "Kopra itu komoditas ekspor. Kopra juga masuk komoditas primer," jelasnya pertelepon, tadi malam. Pemerintah katanya, tidak bisa mengontrol harga karena di luar kendalinya.

"Harga kopra berbeda dengan sembako," tegasnya menyebut alasan pemerintah mandul intervensinya. Lalu solusinya? Dengan nada klise, Parengkuan menyarankan petani mengelola baik-baik usahnya. "Artinya, jika kopra sedang bagus, petani harus memanfaatkan untuk memproduksi sebanyak-banyaknya. Sebaliknya, jika harga turun maka cobalah menunda proses produksi kopra," sarannya.

Sembari mengutip imbauan Gubernur SH Sarundajang, dia juga meminta petani menabung. "Jangan menghabiskan dana hasil produksi dalam sekali pakai," sebutnya. (dit/rez/vid/def)


Editor: Andrew_Pattymahu
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
3915 articles 8 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas