Tajuk Tamu

Nelayan Manado Akankah Tinggal Menjadi Kenangan?

Semenjak Pantai Manado direklamasi yakni di tahun 1997, kini sudah jarang terdengar lagi istilah-istilah yang biasa

Nelayan Manado Akankah Tinggal Menjadi Kenangan?
IST
Oleh: Ronald Marcus
Ketua Solidaritas Nelayan Wenang (Gesonnang) Sulut


Semenjak Pantai Manado direklamasi yakni di tahun 1997, kini sudah jarang terdengar lagi  istilah-istilah yang biasa dipakai nelayan untuk melaut misalnya tarek kamudi, palompong, soma, pelang, prao maupun hela soma. Menjadi hal terparah lagi 'bahasa pasar' ini mungkin sudah menjadi asing ditelinga 'generasi muda' nelayan yang tinggal di pesisiran seperti daerah Pondol, Kampung Kakas, Kampung Tomohon, sampai Sario. Sementara itu teriakan lantang nelayan yang biasanya memecah kesunyian pagi di kala melaut lambat laun  mulai hilang .

Dulunya di Pantai Manado selalu terparkir ratusan perahu masyarakat yang selalu 'siap siaga' bila musim ikan datang. Perahu-perahu tersebut berjejer rapi di atas pasir pantai hitam keputihan yang lembut. Perahu ini juga menjadi modal penghidupan keluarga nelayan.

Kini semuanya akan tinggal menjadi kenangan seiring dengan pesatnya pembangunan Manado yang mengharuskan daerah-daerah pesisir ditimbun tanah (di reklamasi) demi hedonism orang-orang yang mencintai modernisasi denagan menkesampingkan urusan rakyat kecil. "Nelayan sudah susah melaut," begitu kata teman-teman seprofesi saya.
 
Sejak kepemimpinan mantan Walikota Manado Wempie Frederik kemudian beralih ke tangan Jimmy Rimba Rogi dan berlanjut Abdi Buchari sampai Robby Mamuaja, nelayan sepertinya menjadi anak tiri pembangunan kota. Alasannya tidak muluk-muluk yakni tidak ada tambatan perahu yang representatif bagi kami.

Entah sudah berapa kali ribuan nelayan kota ini melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Walikota Manado menuntut supaya pemerintah menyediakan tambatan perahu. Tetapi hanya ucapan yang membuat surga telinga yang bermuara ke janji-janji kosong.

Memang pemerintah sudah menyediakan lokasi tambatan perahu, tetapi lokasi dermaga yang berada di kawasan Blue Banter tidak layak. Pasalnya saat musim ombak datang perahu nelayan banyak yang rusak, kemudian ditambah lagi dengan areanya yang kecil sehingga tidak bisa menampung perahu nelayan yang lain. Akibatnya seringakali diantara para nelayan terjadi adu mulut, merasa siapa yang layak dan tidak layak.

Bagi nelayan yang 'tersisih' mereka akan menambatkan perahu di atas batu-batu proyek reklamasi, maka kerusakan perahu sudah tidak bisa dihindari karena bahan dasar yang terbuat dari kayu membuat badan perahu robek tergesek dengan tajamnya batu. Nelayan makin menderita.

Sewaktu melakukan tatap muka dengan Abdi Buchari, mantan walikota ini sudah berjanji akan memindahkan lokasi tambatan yang saat ini berada di kawasn Blue Banter. Bahkan Buchari juga sempat menunjukan peta kepada nelayan dimana lokasi tersebut akan dibangun.

Kemudian saat nelayan melakukan demontrasi ke kantor walikota dan gedung DPRD Manado pertengahan tahun 2011, pihak  legislatif dan ekskutif berjanji paling lambat bulan Desember 2011 proyek pembangunan tamabtan perahu yang representatif sudah dimulai. Tetapi sekali lagi kami hanya menambahakan janji kosong.

Harapan kami kini sepertinya akan sirna dan hanya akan menjadi mimpi yang selalu tidak menjadi kenyataan. Tetapi kemudian ada titik terang manakala Kota Manado dipimpin oleh Vicky lumentut dan Harley Mangindaan.

Kami ribuan nelayan di kota ini mulai menegakkan kepala lagi melihat harapan baru itu. Kami hanya berharap supaya pemimpin yang berjiwa muda ini tidak akan meninggalkan nelayan. Kami ingin menjadi 'anak kandung' lagi.

Sedikit cerita saja, negara Italy walau sudah menjadi negara maju mereka selalu menjadikan perkampungan nelayan sebagai primadona dalam menggaet wisatawan dari mancanegara, apalagi Manado yang terkenal dengan wisata baharinya. mudah-mudahan saja tahun ini tambatan perahu sudah terealisasi. Amen (*) 

   





















Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help