Jumat, 27 Februari 2015

Fenomena 'Tambio' di Kalangan Gadis Muda Manado

Senin, 7 Februari 2011 10:02 WITA

Fenomena 'Tambio' di Kalangan Gadis Muda Manado
NET
Ilustrasi

Kota Manado dan Sulawesi Utara (Sulut) terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik dan perempuan-perempuan yang sexi. Namun belakangan 'imej buruk' tentang kaum hawa asal Manado mulai tersebar akibat adanya sejumlah wanita yang bekerja sebagai 'waiters' merangkap Pekerja Seks Komersial (PSK) di luar daerah ini.

Sudah rahasia umum jika di Jakarta, Batam, Papua hingga ke luar negeri, wanita Manado terkenal dengan 'imej' tersebut. Ironisnya di Kota Manado sendiri tidak ada lokasi prostitusi dan praktek 'jual diri' tidak setransparan yang terjadi didaerah lain. Mungkin karena hubungan kekeluargaan dan pengunaan fam 'marga' yang mengikat warga untuk saling mengenal dan ada rasa malu untuk berprofesi seperti itu sebab kentalnya nuansa religi di Manado.

Tahun 2010 dan awal 2011 ini muncul fenomena baru. Muncul karena setiap malam secara terang-terangan ada wanita dari berbagai variasi umur yaitu muda-tua yang berbaris jejer di pesisir jalan Boulevard Manado untuk menjajakan dirinya dan mencari 'konsumennya.'

Sebelumnya para wanita ini dikenal dengan istilah PSK atau perek. Namun di Manado familiar dengan istilah tambio (tampang biongo/tampang bego) dan sekarang 'duara' dan 'tigara.'
Duara itu artinya sekali kencan perjamnya klien harus membayar bayar Rp 200 ribu dan Tigara' artinya sekali kencan perjamnya Rp 300 ribu.

Sebenarnya, fenomena sosial ini sudah berlangsung lama sejak era "pagar besi." Kemudian saat Boulevard hadir barulah menjamur para "tambio." Perkembangan Manado yang semakin pesat dengan tujuan wisata mice maka semakin berkembang pula masalah sosial ini.

Bahkan pernah dirilis disebuah media elektronik, testimoni seorang germo terkait profesi ini. Saat itu  ada pelaksanaan konferensi tingkat dunia di Kota Manado. Sang germo pada saat ini mengaku sampai kehabisan stock tambio
karena demand dari para peserta konferensi tersebut yang sangat tinggi.

Lebih surprise lagi sang germo bisa meraup profit sampe ratusan juta selama penyelenggaraan konferensi tersebut. Sehingga berkembang menjadi industri yang menguntungkan dan mengundang para wanita muda untuk masuk kedalamnya.

Halaman12
Editor: Rine_Araro
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas