Sabtu, 22 November 2014
Tribun Manado

Pembangunan Ekologi atau Ekonomi?

Rabu, 2 Februari 2011 18:33 WITA

Pembangunan Ekologi atau Ekonomi?
manadoinfo.wordpress.com
Ilustrasi
Oleh: J.R. Pahlano Daud, Peneliti dan Staf Dosen Marine Ecotourism, Politeknik Negeri Manado

DARI sekian banyak jenis pajak yang diberlakukan oleh pemerintah, tidak ada satu pun yang dikhususkan untuk mengganti kerusakan udara, air, tanah, hutan, pesisir dan laut.  Industri secara sadar harus menginternalkan berbagai eksternalitas yang ditimbulkan oleh lingkungan melalui retribusi, pajak, pengutan dan iuran lingkungan (pajak ekologi), dalam komponen harga melalui kebijaksanaan ekonomi makro.  

Industri masa datang harusnya mampu berproduksi dalam jangka panjang dengan tetap memelihara ekosistemnya.  Untuk melestarikan ekosistem,  kegiatan pembangunan industri harus mencegah pencemaran, mengurangi emisi‑emisi, melestarikan keanekaragaman hayati, menggunakan sumber daya biologi terpulihkan secara berkelanjutan dan mempertahankan keterpaduan ekosistem‑ekosistem lain dalam ekosistem besar biosfer bumi.

Pembangunan tidaklah cukup mengandalkan pendekatan ilmu ekonomi konvensional semata.  Kegagalan‑kegagalan pembangunan ekonomi di negara berkembang seperti di Indonesia, timbulnya gejala Ducth Desease (pertumbuhan ekonomi justru lambat pada daerah kaya SDA) dan berbagai degradasi sumber daya alam serta lingkungan tidak bisa semata‑mata didekati dari kebijakan ekonomi fiskal dan moneter.  Misalnya penghitungan nilai‑non pasar sebuah pohon, yang umumnya diukur nilai ekonomi dengan menebang dan menjual kayunya saja.  

Sedangkan pohon yang dibiarkan dianggap tak memiliki nilai ekonomis sama sekali.  Padahal pohon hidup ini bila dikonversi/diuangkan dengan memperhitungkan nilai ekologi akan memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi.  Nilai non‑market tersebut misalnya keteduhan, kesejukan, kesuburan tanah, tempat bersarang berbagai burung dan hewan serta keseimbangan dan kelestarian alam.  Penempatan nilai ekologi dalam ekonomi yang sebenarnya juga sangat diperlukan dalam menghitung kerugian seperti akibat pencemaran lingkungan yang dilakukan suatu perusahaan, kerusakan hutan, kerusakan lahan, pantai, laut dan sebagainya.

Kehidupan manusia memang tidak bisa lepas dari ekosistem yang besar (biosfer bumi) sebagai penyedia jasa dan produk dari kehidupan manusia itu sendiri.  Mengutip pernyataan seorang militer Prussia, Carl von Clausewitz (1780‑1831) ekonomi terlalu penting untuk diserahkan pengelolaannya hanya kepada para ekonom saja.  Sementara itu, arus utama pemikiran ekonomi terlalu menitikberatkan pada pelaku sosial (social sphere/anthropocentric) dengan mendiskusikan persoalan yang terkait dengan nilai keputusan (value decisions), tingkah laku pelaku ekonomi (economic actors/agents) dan mekanisme pasar (market mechanism).  

Mereka sering lupa atau bahkan melupakan diri bahwa distribusi kesejahteraan yang dihasilkan dari pasar itu berasal dari hardsphere atau dunia material alias ekosistem alam, lingkungan, sistem biosphere itu sendiri.  (*)
Editor: Anthonius_Iwan

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas