TribunManado/

TAJUK TAMU

Berobat kok Mahal?

menjadi rahasia umum bahwa saat sakit dan harus berobat menjadi sebuah persoalan,

Berobat kok Mahal?
NET
Ilustrasi
Penulis:  Asep Rahman, Pembaca Tribun

SUDAH menjadi rahasia umum bahwa saat sakit dan harus berobat menjadi sebuah persoalan, biaya berobat sangatlah mahal.  Oleh karena itu sangatlah wajar bagi  banyak orang yang berposisi di garis merah (dibaca: miskin) yang sakit,  tambah menderita karena mereka terpaksa tidak berobat karena tidak mampu. Tahukah mengapa kenapa biaya pengobatan begitu mahal?

Ada dua faktor yan bisa menyebabkan besarnya biaya pengobatan, Faktor tersebut  yaitu,  dari dalam diri  kita sendiri dan institusi kesehatan. Untuk lebih jelasnya kita lihat dan bedah faktor tersebut satu persatu.

Pertama faktor Institusi kesehatan
Yang saya maksud sebagai institusi kesehatan disini adalah semua tetek-bengek dunia medis. Peralatan medis makin canggih dapat menyebabkan makin tingginya biaya pengobatan. Selain itu tingginya biaya medis dapat disebabkan oleh para dokter sering memberikan pemeriksaan diagnosis, prosedur dan terapi lain, yang sebenarnya tidak diperlukan oleh pasien. Pasien harus mengeluarkan uang banyak untuk itu.

Bergesernya paradigma mengobati pasien adalah sebuah tugas sosial, menjadi orientasi bisnis, sebagai mesin uang. Mafia medis, dan regulasi yang minim dimana tidak adanya standar biaya tiap tindakan medis merupakan faktor-faktor yang tidak bisa dipisahkan. 

Semua berawal dari pendidikan awal. Semua tahu biaya pendidikan kedokteran sangatlah mahal. Bisa dimaklumi jika kemudian menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) tertentu  yang hanya berorientasi keuntungan semata menutupi biaya pendidikan, orientasi  "balas-dendam".


Sementara itu, kelalaian (dibaca: kebodohan) kita sendiri adalah lupa akan pribahasa mencegah lebih baik daripada mengobati (entah lupa atau pura-pura lupa). Kesehatan dengan ber-kacamata-sakit menjadi "idola" mayoritas masyarakat. Kita hanya memandang pentingnya kesehatan di kala sakit.

Padahal dengan posisi sakit, otomatis penyembuhan dan pengobatan menjadi barang/jasa/komoditas yang urgent. Barang yang mendesak selalu memiliki nilai tawar yang mendekati nol. Bahkan posisi pasien nampak sebagai pihak yang tidak berhak dalam pengambilan keputusan mengenai biaya pengobatan.

Ada beberapa tips  terbaik untuk mengantisipasi kita mengeluarkan biaya sangat besar untuk berobat.  Pertama-tama, kita harus sadar. Sadar sehat sebelum sakit. Kedua, jadilah pasien yang kritis, tanyakan manfaat semua tindakan medis dan obat-obat yang tertera di resep. Kutunggu saran dan kritik darimu, salam sehat.(*)
Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help